Senin, 03 Juli 2017

Saya Bugis Saya Bangga #Bugismendunia, viral


Media online lokal kembali berseteru dengan media sosial

Susana lebaran yang dipenuhi silaturahmi terpantau dari ramainya media sosial, reuni dan penuhnya café. Sektika perbincangan terfokus dengan satu tema, tema yang viral di media sosial dan menjadi perbincangan di ajang silaturahmi yang ada di kampung saya maupun di beranda facebook saya, dibeberapa group lokal yg saya juga ikut bergabung. Banyak cara untuk mengekspresikan tema itu dan bermunculan meme dengan tulisan “saya Bugis Saya Bangga” dan bahkan di hastag dengan #bugismendunia.

Ditengah kehebohan dan suasana saya memaksimalkan waktu dengan keluarga, saya coba mengikuti sumber ramenya diskusi ini. Media lokal Fajar Online.com ternyata yang memicu ramainya diskusi ini, terlihat dari “capturan screen shoot” di facebook dengan judul “Saat Mall dipenuhi Bahasa Bugis…. Tanda Orang Kampung Sedang Liburan di Kota”. Seketika saya penasaran akan maknanya namun tidak sempat membaca karena masih larut dalam silaturahmi dan ketika mencoba membaca, linknya sudah dihapus.

Sambil mengamati saya coba melibatkan diri untuk menggali tema ini dengan larut didiskusi beberapa teman-teman komunitas, LSM maupun teman Jurnalis di salah satu café ternama di Bone. Dari penjelasan adik kami ketua Phinisi Sport Makassar, menyampaikan bahwa judul itu dikutip dari perkataan security mall yang diwawancarai oleh pihak fajaronline.com, kata Hezron yang sempat membaca tulisan dimaksud. Saya coba menyela bahwa itu berarti sudah sesuai karena dikutip dari sumber data atau sumber informasinya. Namun diskusi berlanjut , kemudian dari salah satu rekan jurnalis dan LSM lokal bahwa bilapun itu kutipan, tetapi ada redaksi dan editor yang tugasnya menyaring judul dan bisa lebih memikirkan dampak dari judul dimaksud tidak hanya berburu berita itu menarik dibaca dan banyak pembacanya.

Berjalan waktu DP “display picture” kemudian viral dengan tulisan “Saya Bugis Saya Bangga” dengan memasang foto masing-masing berdempetan dengan tulisan itu. Ada yang memposting dari aplikasi Path dan Intagramnya kemudian di link-kan dengan akun facebook ataupun twitter masing-masing. Ada pula yang memasukkan ke group masing-masing Whatsapp, Line, BBM apalagi di group reuninan yang lagi musim di kampung halaman dalam suasana lebaran.

Viralnya tema ini menurut saya adalah gerakan responsif yang dalam sosiologi dikenal dengan paham “primordial” paham kedaerahaan, akrab dengan sebutan “primordialisme”. Saya menanggapi kondisi ini dari sisi penggunaan media sosialya, termasuk penyebab dan atau akibat dari penggunaan dimaksud. Penggunaan media sosial akibat respon dari judul media lokal online yang kontroversial bisa menggiring SARA dan bisa pula akibat dari kontestasi politik juga bisa jadi persiapan kontentasi politik diluar dari kesalahan “human error” dalam kasus ini. Dihapusnya link dimaksud merupakan pemaknaan bahwa media online terdesak dengan media sosial. Dimana media online ini juga dibesarkan oleh media sosial dengan cara melampirkan link setiap berita yang akan diviralkan dan dianggap bisa menjadi alat untuk memancing banyaknya pembaca , kemudian media online bisa mendapatkan fee langsung dari penyedia jasa “cloud” dan internet lainnya ataupun dari iklan-iklan digital. Bila kurang berhati-hati maka arusnya bisa berbalik menjadi yang akan mematikannya.

Ketajaman pisau bersisi dua media sosial kembali nampak terlihat, bahkan bisa masuk di moment yang kita tidak sempat perkirakan. Teringat kejadian pencemaran Arung Palakka yang lalu yang mengarah ke SARA dan menjadi buah bibir bahwa hal itu untuk titipan persiapan Pilkada. Apakah judul fajar online ini juga mengarah ke persiapan dimaksud atau murni kesalahan, jawabanya masih sementara ditunggu mengingat belum ada muncul viral balasan di media sosial berkaitan dengan klarifikasi dari pihak fajar online. Multi tafsir akan terus bermunculan karena semua akan bebas menggiring isu liar di komentar-komentar media sosial. Baik dengan dasar, maupun tanpa dasar karena media sosial itu memang memungkinkan untuk hal dimaksud, hanya kedewasaan dari pengguna maupun pembacanya yang bisa mengurainya.

Sabtu, 1 Juli 2017 saya mengantar teman-teman Karate silaturahmi dan melaporkan kegiatanKarate ke Bupati Bone. Disela canda tawa saya sisipkan tema ini kebeliau dan ditanggapi sangat positif bahwa hal itu sangat baik, tentang tata penulisan itu teknis jurnalis, tetapi mestinya kita lebih melestarikannya lagi bahkan beliau detail dengan bekerjasama ke beberapa pihak untuk mendukung bahasa bugis melalui pelatihan teknis guru-guru di tingkat sekolah dasar yang sedang berlangsung. Beliau menyampaikan bahwa itu adalah identitas kita. Bahwa ciri budaya dengan sejarah yang  baik terlihat dari ada identitasnya, ada bahasa daerah termasuk huruf tulisannya, dan tidak semua memiliki itu.

Dua arah respon juga mengalir di media sosial mengenai berita fajar online, ada banyak yang juga sepaham dengan Bupati Bone meski bugis itu bukan hanya ada di Bone tetapi di banyak Kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan (Bulukumba, Sinjai, Maros, Wajo, Sidrap, Parepare, Pinrang, Pangkep, Barru dan beberapa kabupaten lainnya yang beririsan dengan bugis). Tetapi tidak sedikit yang merasa tersinggung dan beberapa yang menafsirkannya sebagai sebuah pengucilan terhadap suku tertentu dan menganggap bugis itu adalah kampungan.

Sebagai saran untuk viral ini, baiknya pihak fajaronline melakukan klarifikasi terbuka dan kembali melewati jalur-jalur yang membuat viral tulisan ini, untuk menghindari pihak-pihak yang mungkin akan memanfaatkan situasi. mengingat Pilkada Propinsi (Gubernur) dan 11 Kabupaten Kota di Sulawesi Selatan bakal digelar, ada yang memungkinkan menyiapkan tim cyber mereka untuk memanfaatkan situasi dan setiap momen yang bisa mengangkat elektabilitas. Bisa juga ada yang tidak peduli akan akibat dari situasi ini, mereka hanya peduli akan kepentingan mereka saja, bahkan bisa saja masyarakat akan curiga apakah memang fajaronline adalah bagian dari itu.


Saran ini untuk memberikan makna jelas dari pengambilan keputusan dalam penggunaan media sosial, bahwa tidak mengambil keputusan adalah suatu keputusan. “diam” adalah suatu keputusan, keputusan untuk tidak peduli akan situasi dan kondisi disekitar. Mengabaikan viral ini adalah suatu keputusan akan tidak khawatrinya akibat dari dampak penggunaan media sosial.

dimuat di media online lokal
bone terkini pada tanggal 3 Juli 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar