Sabtu, 25 Maret 2017

Meninggikan Kualitas dengan Media Sosial Dikerumunan Kuantitas, Efek Bola Salju Pencari Kerja

model : Andy Bondeng dan Lilis

Tuntutan kualitas SDM generasi muda untuk dunia kerja

Palopo, 25 Maret 2017

Tidak semua sarjana komputer bisa excel, tidak semua sarjana bahasa Inggris bisa speak englsih maka jangan berharap semua pria menyukai wanita (Jacop P. Sohilait). Kutipan dari teman yang mewawancara ratusan calon karyawan selama 3 hari berurut di Kantor Telkomsel Distribution Centre (TDC) Palopo. Kalimat ini diceritakan ke kami saat diskusi pagi ini yang prihatin dengan lulusan sarjana saat ini. Beliau adalah karyawan PT. Telkomsel untuk devisi Sales Outlet Operation Sub Branch Palopo, Branch Parepare, di Regional Sulawesi.

Seperti tulisan saya sebelumnya MediaSosial Andalan Para Pencari Kerja untuk Mengurangi Pengangguran, membahas tentang bagaimana media sosial berperan dalam mengurangi pengangguran, maka tulisan ini adalah keberlanjutan bahasannya tentang respon dari perwakilan perusahaan yang ingin merekrut karyawan. Respon bernada candaan namun menggugah hati dan fikiran akan kualitas sumber daya manusia (pelamar kerja) yang ada saat ini.


Ririn Kadoena, HRD PT. Comindo Mitra Sulawesi memilah data pelamar dan menyampaikan ada sekitar 90% lebih pelamar adalah Sarjana Strata satu (S1). Respon lowongan pekerjaan ini dengan media sosial bersambut baik dengan banyaknya pelamar yang memasukkan berkas dan mengikuti sesi wawancara dan tes kemampuan dasar sesuai kebutuhan perusahaan.

Banyak cerita muncul saat diskusi ringan merespon semua proses pengrekrutan karyawan ini. Bahasan yang muncul kemudian menarik adalah banyaknya pelamar yang hampir semua sarjana dan belum direkomendasikan. Mungkin karena memang beda disiplin ilmu dengan formasi yang ada atau memang mereka kurang siap dalam menghadapi tantangan dunia kerja. Yang saya khawatirkan adalah memang prosesi kesarjanaannya dan segala bentuk sistem terkait prosesi itu yang tidak selektif dan hanya memburu kuantitas bukan kualitas.

Terlalu jauh saya mengurusi hal tentang prosesi menjadi sarjana meski saya bagian yang mengikuti proses tersebut, namun perlu saya sampaikan informasi ini sebagai pengingat tentang kuantitas yang semuanya butuh kualitas. Kualitas yang bisa bersaing ditengah-tengah kompetisi semakin ketat dan selalu berhadapan dengan perubahan.

Banyaknya lulusan yang secara kompetensi masih sulit untuk bersaing di dunia serba kompetitif ini. Menjadi pengingat untuk generasi muda bisa mempersiapkan potensinya. Teruslah belajar dan mencari informasi-informasi yang bisa membangun potensi teman-teman sekalian. Banyak cara untuk itu, berkomunitas salah satu pilihannya untuk bisa menambah informasi mengenai perkembangan yang ada, perkembangan akan kondisi kekeinian, informasi mengenai seperti apa yang dibutuh untuk bisa diterima di perusahaan-perusahaan saat ini dan lebih mulia lagi bila mencari infromasi untuk bisa berwirausaha.

Bila informasi ini telah didapatkan maka mempersiapkan potensi akan hal dimaksud menjadi cara untuk bisa keluar dari ancaman dan tantangan yang ada saat ini, dan saatnya mengubah ketakutan itu menjadi peluang untuk bisa bersaing di era kompetitif. Berkomunitas saat ini mulai keren dengan adanya media sosial untuk bisa menyambung komunikasi setelah berkumpul dan berinteraksi langsung, meski berjauhan tetap bisa berinteraksi dengan media sosial dengan fasilitas chating group.

Menggali potensi diri adalah cara untuk menonjolkan kualitas dari kerumunan kuantitas yang ada. Bila dunia kampus hanya cara anda untuk mendapatkan gelar, maka itu tidak bisa menolong anda untuk bisa keluar dari tantangan dunia kerja saat ini, terlebih saat ini adalah era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di mana tenaga kerja bisa saling tukar antar negara Asean. Isu kekinian pun bisa menjadi rujukan dimana banyaknya tenaga kerja asing yang bekerja di negara kita dan akan terus berlanjut bila kualitas SDM kita tidak kita tingkatkan. Jangan salahkan semua ke pemerintah, jangan salahkan semua dengan metode kampus yang membuat kalian sarjana, tapi baiknya ambillah cermin dan tatap baik-baik tampilan kalian untuk melihat potensi yang mana yang anda ingin kembangkan.

Sekarang era digital dan semua harus siap dengan hal itu utamanya genarasi muda. Dulunya ada istilah buta huruf yang dideskripsikan buat mereka yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Dan era ini istilah buta huruf itu telah bergeser untuk teman-teman yang tidak bisa menggunakan komputer dan tidak bisa memanfaatkan internet secara positif. Internet secara unsur adalah bagaimana melakukan browsing, email dan chatting, dan kekininan chating itu lebih dekat dengan media sosial.

Semua harus berbenah, termasuk kampus yang mengeluarkan lulusan, baiknya peka akan tuntutan digital ini. Jangan karena dosenya tidak bisa merespon digital, mahasiswa menjadi korban akan tuntutan zamannya. Menyisipkan semua unsur digital dalam setiap pembelajaran adalah salah satu usulan akan pilhan, untuk menjawab tantangan era kompetisi ini.

Semoga menjadi solusi baik untuk menjawab keserasian kuantitas dan kualitas sumber daya manusia khusunya generasi muda lokal yang insha Allah berprilaku dan berpotensi global.






 photo sesi untuk model (tag by rina)

4 komentar:

  1. foto yang paling bawah lebih kreatif kayanya Pak
    hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi bisa jadi

      Nda jadi model yg foto jd idenya,setengah dari jepretannya fotonya.

      Hapus