Minggu, 26 Maret 2017

Sykuran IPMP Lamappatunru Komisariat ManurungE ri Matajang



Anak muda kreatif kembali berkumpul di Jl. Bhayangkara lingkungan Laccokong Kec. Tanete Riattang Kab. Bone untuk bersama berucap syukur yang di pandu oleh ust Amir Langko. Wujud syukur atas pembukaan sekretariat komisariat Ikatan Pelajar Mahasiswa dan Pemuda (IPMP) Lamappatunru ManurungE ri Matajang. Kegiatan ini dilaksanakan ba'dah isya Sabtu 25 Maret 2017, dimana anak muda sebayanya sudah sibuk bermalam Minggu di beberapa tempat nongkrong yang keren-keren.

Komisariat ini adalah komisariat pertama di bawah naungan pengurus besar IPMP Lamappatunru yang sekretariatnya di Jalan Gunung Bawakaraeng. Ini adalah bukti eksistensi dari lembaga kepemudaan yang belum genap satu tahun mendeklarasikan kepengurusannya.

Komisariat ini juga telah dibentuk beberapa waktu yang lalu dengan turunan kepengurusan sesuai amanah AD dan ART organisasi ini dan diamanahkan kepada saudara Aswar sebagai Ketua Komisariat. meski baru dibentuk tidak berarti miskin gerakan, Ketua Komisariat Lamappatunru ini telah aktif mengarahkan kepengurusannya untuk melaksanakan program kerja yang telah dibuat sebelumnya. Salah satunya yang ramai beberapa hari yang lalu diberbagai media yakni perayaan hari jadi Bone ke-687 dengan menyapa Kakek tua Ambo Sakka di SibuluE.

Berkunjung beberapa pengurus besar IPMP Lamappatunru dan pembina juga anggota dan pengurus dari komisariat sendiri. Bersama berkumpul mengucap rasa syukur sembari menyicipi hidangan kue tradisional,onde-onde, sokko dan Palopo juga beberapa hidangan kue lainnya. "Kami berkumpul bersama mengundang pak ustad dan senior-senior untuk sykuran komisariat baru, semoga bisa mendukung pelaksanaan program kerja nantinya dan ini kami sewa dari dana swadaya teman-teman semua", penjelasan Aswar saat berdiskusi.

Rentetan canda dan tawa hadir dalam diskusi antar anggota organisasi ini, sembari mengevaluasi beberapa kegiatan yang ada juga membahas beberapa isu kekinian untuk dijadikan masukan dalam perencanaan gerakan-gerakan mereka selanjutnya. Gerakan yang ingin membawa perubahan ke arah yang lebih baik sebagai pengingat juga sekaligus pendukung pemerintah di beberapa lini yang belum sempat tersentuh namun di butuh oleh masyarakat.

Koordinasi juga terjalin termasuk perencanaan dalam kerja sama ke beberapa instansi terkait, termasuk kerja sama yang komunikasinya telah dibangun sebelumnya ke salah satu Dirjen Kementrian di Kementrian Pendidikan di Jakarta. "Sebenarnya kita sudah coba menjalin komunikasi di pemerintahan dengan jalur dari teman-teman baik di daerah maupun diluar, harapannya agar kami tetap bisa bersinergi dengan pemerintah dalam upaya sama membangun daerah", harap Sudirman yang biasa di sapa Bang Dhona.

Sukses selalu IPMP Lamappatunru
Disanjung tidak melayang
Diserang tidak tumbang





Sabtu, 25 Maret 2017

Meninggikan Kualitas dengan Media Sosial Dikerumunan Kuantitas, Efek Bola Salju Pencari Kerja

model : Andy Bondeng dan Lilis

Tuntutan kualitas SDM generasi muda untuk dunia kerja

Palopo, 25 Maret 2017

Tidak semua sarjana komputer bisa excel, tidak semua sarjana bahasa Inggris bisa speak englsih maka jangan berharap semua pria menyukai wanita (Jacop P. Sohilait). Kutipan dari teman yang mewawancara ratusan calon karyawan selama 3 hari berurut di Kantor Telkomsel Distribution Centre (TDC) Palopo. Kalimat ini diceritakan ke kami saat diskusi pagi ini yang prihatin dengan lulusan sarjana saat ini. Beliau adalah karyawan PT. Telkomsel untuk devisi Sales Outlet Operation Sub Branch Palopo, Branch Parepare, di Regional Sulawesi.

Seperti tulisan saya sebelumnya MediaSosial Andalan Para Pencari Kerja untuk Mengurangi Pengangguran, membahas tentang bagaimana media sosial berperan dalam mengurangi pengangguran, maka tulisan ini adalah keberlanjutan bahasannya tentang respon dari perwakilan perusahaan yang ingin merekrut karyawan. Respon bernada candaan namun menggugah hati dan fikiran akan kualitas sumber daya manusia (pelamar kerja) yang ada saat ini.


Ririn Kadoena, HRD PT. Comindo Mitra Sulawesi memilah data pelamar dan menyampaikan ada sekitar 90% lebih pelamar adalah Sarjana Strata satu (S1). Respon lowongan pekerjaan ini dengan media sosial bersambut baik dengan banyaknya pelamar yang memasukkan berkas dan mengikuti sesi wawancara dan tes kemampuan dasar sesuai kebutuhan perusahaan.

Banyak cerita muncul saat diskusi ringan merespon semua proses pengrekrutan karyawan ini. Bahasan yang muncul kemudian menarik adalah banyaknya pelamar yang hampir semua sarjana dan belum direkomendasikan. Mungkin karena memang beda disiplin ilmu dengan formasi yang ada atau memang mereka kurang siap dalam menghadapi tantangan dunia kerja. Yang saya khawatirkan adalah memang prosesi kesarjanaannya dan segala bentuk sistem terkait prosesi itu yang tidak selektif dan hanya memburu kuantitas bukan kualitas.

Terlalu jauh saya mengurusi hal tentang prosesi menjadi sarjana meski saya bagian yang mengikuti proses tersebut, namun perlu saya sampaikan informasi ini sebagai pengingat tentang kuantitas yang semuanya butuh kualitas. Kualitas yang bisa bersaing ditengah-tengah kompetisi semakin ketat dan selalu berhadapan dengan perubahan.

Banyaknya lulusan yang secara kompetensi masih sulit untuk bersaing di dunia serba kompetitif ini. Menjadi pengingat untuk generasi muda bisa mempersiapkan potensinya. Teruslah belajar dan mencari informasi-informasi yang bisa membangun potensi teman-teman sekalian. Banyak cara untuk itu, berkomunitas salah satu pilihannya untuk bisa menambah informasi mengenai perkembangan yang ada, perkembangan akan kondisi kekeinian, informasi mengenai seperti apa yang dibutuh untuk bisa diterima di perusahaan-perusahaan saat ini dan lebih mulia lagi bila mencari infromasi untuk bisa berwirausaha.

Bila informasi ini telah didapatkan maka mempersiapkan potensi akan hal dimaksud menjadi cara untuk bisa keluar dari ancaman dan tantangan yang ada saat ini, dan saatnya mengubah ketakutan itu menjadi peluang untuk bisa bersaing di era kompetitif. Berkomunitas saat ini mulai keren dengan adanya media sosial untuk bisa menyambung komunikasi setelah berkumpul dan berinteraksi langsung, meski berjauhan tetap bisa berinteraksi dengan media sosial dengan fasilitas chating group.

Menggali potensi diri adalah cara untuk menonjolkan kualitas dari kerumunan kuantitas yang ada. Bila dunia kampus hanya cara anda untuk mendapatkan gelar, maka itu tidak bisa menolong anda untuk bisa keluar dari tantangan dunia kerja saat ini, terlebih saat ini adalah era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di mana tenaga kerja bisa saling tukar antar negara Asean. Isu kekinian pun bisa menjadi rujukan dimana banyaknya tenaga kerja asing yang bekerja di negara kita dan akan terus berlanjut bila kualitas SDM kita tidak kita tingkatkan. Jangan salahkan semua ke pemerintah, jangan salahkan semua dengan metode kampus yang membuat kalian sarjana, tapi baiknya ambillah cermin dan tatap baik-baik tampilan kalian untuk melihat potensi yang mana yang anda ingin kembangkan.

Sekarang era digital dan semua harus siap dengan hal itu utamanya genarasi muda. Dulunya ada istilah buta huruf yang dideskripsikan buat mereka yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Dan era ini istilah buta huruf itu telah bergeser untuk teman-teman yang tidak bisa menggunakan komputer dan tidak bisa memanfaatkan internet secara positif. Internet secara unsur adalah bagaimana melakukan browsing, email dan chatting, dan kekininan chating itu lebih dekat dengan media sosial.

Semua harus berbenah, termasuk kampus yang mengeluarkan lulusan, baiknya peka akan tuntutan digital ini. Jangan karena dosenya tidak bisa merespon digital, mahasiswa menjadi korban akan tuntutan zamannya. Menyisipkan semua unsur digital dalam setiap pembelajaran adalah salah satu usulan akan pilhan, untuk menjawab tantangan era kompetisi ini.

Semoga menjadi solusi baik untuk menjawab keserasian kuantitas dan kualitas sumber daya manusia khusunya generasi muda lokal yang insha Allah berprilaku dan berpotensi global.






 photo sesi untuk model (tag by rina)

Jumat, 24 Maret 2017

Media Sosial Andalan Para Pencari Kerja untuk Mengurangi Pengangguran



Palopo, 24 Maret 2017.

Empat hari yang lalu sekitar tanggal 20 Maret 2017, disampaikan untuk membagikan informasi mengenai kebutuhan formasi tenaga admin di salah satu perusahan operator ternama. Karyawan perusahaan diminta membagikan informasinya melalui sosial media. Ada yang membagikan di akun Facebooknya, di Instagram, Line dan Path masing-masing karyawan yang sempat mendapatkan infromasinya dan sempat meresponnya.

Akun media sosial di atas merupakan akun media sosial yang familiar di Kota Palopo maupun di beberapa kabupaten yang ada disekitarnya. Pengumpulan berkas diminta secepatnya, untuk kelanjutan proses wawancara. Karena ada perjalanan dinas ke Masamba, saya melewatkan sehari proses wawancara. Karena bukan di devisi kami maka saya juga tidak terlalu aktif hanya sebagai penghibur dalam proses wawancara.

Setelah sholat Jumat, proses wawancara telah dimuali dan kaget dengan ramainya pelamar yang menunggu giliran wawancara. Saya kemudian mencoba bertanya mengenai berapa jumlah karyawan yang dibutuhkan dan membandingkan dengan berkas lamaran yang saya lihat bertumpuk di beberapa meja. Call centre pun mulai sibuk menelpon untuk mengkonfirmasi jadwal wawancara untuk mereka yang melamar formasi dimaksud.

Terhitung sekitar 70 peserta yang diwawancara total pada hari ini, diluar yang telah diwawancara hari sebelumnya dan masih ada yang terus mengumpulkan berkasnya hari ini, dan akan dijadwalkan besok (sabtu 25 Maret 2017). Dari contact person yang diajukan juga menyampaikan telah menutup dan tidak menerima lagi penyetoran berkas lamaran yang mengkonfirmasi via telepon. Bertanya kepada HRD dan rekan lainnya dan mengestimasi jumlah berkas lamaran yang ada, kurang lebih sekitar 200-an berkas lamaran untuk penerimaan 5 formasi karyawan yang dibutuhkan.
Data di atas khusus untuk penerimaan 5 karyawan, minggu-minggu sebelumnya juga ada penerimaan dengan formasi yang berbeda dengan cara pembagian informasi yang sama dengan formasi lamaran yang berbeda. Ada yang telah masuk masa training dan juga ada yang sementara mempersiapkan diri.

2,5 % untuk perbandingan jumlah yang akan diterima dengan jumlah berkas yang ada, diluar yang masih ingin menyetorkan berkasnya tetapi ditolak. Dengan rata-rata peserta yang diwawancarai adalah sarajana starta satu. Banyak makna dan persepsi yang bisa digali dengan kejadian ini, terlihat akan banyaknya calon pekerja dan bagaimana media sosial sangat memberi manfaat untuk membuka peluang pekerjaan bagi merka.

Media sosial yang pada umumnya digunakan hanya untuk life style, cerita di atas menjelaskan bagaimana media sosial bisa memberi berkah untuk banyak orang yang ingin menghidupi dirinya. Mendapatkan perkejaan melalu media sosial saat ini sangat membantu buat anak-anak muda dan para pencari kerja yang lagi membutuhkannya. Menjadikan berpenghasilan, menghidupi pekerja dan keluarganya adalah kemanfaatan yang harus dijaga untuk keberlangsungan manfaat bagi pengguna media sosial lainnya.

Saat ini Media sosial sangat berperan untuk memberantas kemiskinan dan pengangguran dengan membantu menyebarluaskan informasi-informasi lowongan pekerjaan. Banyaknya pertemanan di media sosial, aktifnya diskusi dalam group media sosial baik komunitas maupun group lainnya akan memberikan banyak peluang untuk mengurangi pengangguran yang ada. Cerita dan fakta di atas merupakan salah satu contoh kemanfaatan media sosial untuk mengurangi pengangguran.

Terus berbagi informasi positif dan mari bermedia sosial positif untuk saling membantu buat sesama.


Obrolan santai tentang Digital dan Media Sosial bersama Bupati Luwu Utara




Obrolan santai tentang Digital dan Media Sosial bersama Bupati Luwu Utara

Masamba, Kamis 23 Maret 2017.

Niatnya kunjungan kerja di Masamba dari Kota Palopo, itupun diajak oleh teman Manager Support Bapak Nur Hamdi yang keseharaiannya menganalisa performance perusahaan di Distributor PT. Telkomsel wilayah Luwu Raya dan Toraja Utara. Menindaklanjuti diskusi pagi mengenai makro ekonomi Luwu Utara yang turun secara Month of Month (MOM), turun dari bulan Pebruari ke Bulan Maret maka kami coba berangkat menuju Kota Masamba yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Luwu Utara. Sebenarnya hanya ingin memonitor dari kantor Branch Office Palopo tapi ingat sop kikil Masamba jadinya mengiyakan ajakan itu.

Diperjalanan sekitar perbatasan Kota Palopo dengan Kecamatan Walenrang Kabupaten Luwu, tiba-tiba saya ingin berdiskusi dengan Bupati Luwu Utara yang selama ini dikenal sebagai Bupati Wanita pertama di Propinsi Sulwesi Selatan. Selain paling cantik dari Bupati lainnya beliau juga dikenal sebagai Bupati cerdas dengan prestasi saat menyelesaikan studinya di Unversitas Hasanuddin sebagai lulusan terbaik. Ibu Indah sapaan Bupati Luwu Utara ini sebelumnya adalah wakil Bupati di Kabupaten yang sama, baru saja mendapat penghargaan pada tanggal 29 November 2016 dan meraih predikat Golden Champion pada The 2nd Indonesia Smart Nation (ISNA).

Saya mencoba menghubungi teman Manager Telkomsel Distribution Centre (TDC) Masamba, sahabat saya Bapak Reski Agustinus untuk meminta jadwal bersilaturahmi dengan beliau. Sembari menghubungi teman baik ibu Indah yang juga teman baik saya, yakni salah seorang anak muda dari Kabupaten Bone. Akhirnya informasi datang dari timnya Pak Reski juga diiyakan oleh taman saya tadi, bahwa ba’da Magrib dijadwalkan untuk bisa sharing dengan beliau.

Mengetahui jadwal tersebut, kami langsung menyantap sop kikil andalan yang berdekatan dengan kantor Bank Sulsel dan kantor pegadaian Kota Masamba. Berjalan dibeberapa outlet pulsa di kota Masamba untuk melakukan wawancara mengenai kondisi makro ekonomi dan memberikan gambaran ke kami mengenai kondisi yang mungkin mempengaruhi turunnya performance secara MOM dari transaksi perusahaan kami. Menunggu breafing sore di Kantor TDC Masamba sembari memunculkan beberapa alternatif solusi dalam menyikapi kondisi makro ekonomi yang ada di Kabupaten Luwu Utara secara umum.

Setelah Sholat magrib berjamaah di Masjid depan Rumah Sakit Andi Djemma Palopo yang tidak jauh dari kantor TDC Masamba, kami bergeser ke rumah jabatan Bupati Luwu Utara yang jaraknya sekitar 1 km dari kantor. Sampai di pos, disapa dengan ramah dan dipersilahkan menunggu di deretan kursi tamu yang ada. Keluarlah seorang wanita dengan sapaan yang begitu ramah sambil membawa beberapa cangkir kopi dan potongan kue, seorang asisten yang selalu menyapa tamu-tamu ibu Indah saat ada yang berkunjung di rujab.

Dengan wajah cerah dan senyumannya setelah menunaikan sholat magrib ibu Indah pun keluar menyapa kami sambil bersalaman erat satu per satu dengan beliau. Saya langsung membuka diskusi dengan memperkenalkan beberapa teman yang ikut berdiskusi. Memulai lembaran-lembaran diskusi dengan pengantar ucapan selamat atas penghargaan beliau mengenai kesiapan baik strategi maupun perangkat, kesiapan dan support Pemda Luwu Utara dalam pemanfaatan IT dalam penyediaan data berbasis elektronik. Mengantar beliau dengan beberapa kajian ilmiah mengenai pemanaatan media digital dalam pemerintah di Indonesia, Jakarta, Bandung Surabaya dan Makassar dengan pendekatan konsep masing-masing. Menjelaskan survei yang dilakukan oleh OMB mengenai pemanfaatan Elektronik Government dari Government to Government, Government to Business, Government to citizen dan Government to Internal.

Bergeser diskusi dengan media sosial untuk ASN dan bagaimana media sosial mulai ramai menjelang kontestasi politik. Menceritakan dengan media sosial instagramya yang aktif beliau gunakan. Berdiskusi dengan canda dan tawa bersama sambil selalu mempersilahkan untuk menyicip hidangan di meja depan kami. Berbagi keseruan dengan kertebukaan beliau dengan pemanfaatan media yang ada, menyikapi hasil penilitian yang update tentang media sosial dan digital yang semakin hari semakin dibutuhkan dan perlu dijadikan manfaat sebelum menjadi ancaman buat masyarakatnya. Memberikan banyak tugas ke SKPD terkait yakni Kominfo Luwu Utara dan bebrapa target yang ada, menceritakan beberapa strategi tentang menerima dan mengabaikan informasi sebagai dukungan dalam membuat perencanaan dan master paln dalam membangun Kabupaten Luwu Utara.

Ingin rasanya berlama-lama berdiskusi dengan beliau, namun kami harus mengerti bahwa Ibu Indah  adalah pejabat publik, yang tenaganya dibutuh untuk banyak kemanfaatan orang. Kami harus menyudahi diskusi sebagai perkenalan yang baik dan pondasi keberlanjutan untuk sama menyikapi digitalisasi dalam upaya pemanfaatannya membangun daerah khusunya di Kabupaten Luwu Utara. Dengan ramahnya setelah kami pamitan, Ibu Bupati masih mencoba membuka sisa sisa diskusi yang kami mengerti sebagai bahasa tubuh dengan respon positif atas kunjungan kami sambil memperkenalkan kami ke suami beliau yang baru saja duduk di samping beliau yg juga telah selesai berdiskusi dengan tamu lainnya.

Berjalan keluar  menuju kendaraan dan merencanakan makan malam dengan menu kuliner ayam goreng kampong Masamba sambil terus berdiskusi dengan kedua ketiga rekan saya, dua orang Manager dan seorang PIC selevel supervisor. Di rumah makan, kami terus membahas hasil diskusi kami dengan Ibu Indah, membahas kepribadian baik beliau, kecerdasannya akan menyimak pembicaraan kami, menerima beberapa masukan dari kami dan tata bahasa yang sangat baik untuk kami cerna sebagai bagian yang ingin ikut bertisipasi membangun Luwu Utara.

Terima kasih sambutan hangatnya Ibu Indah, Bupati andalan kami. Semoga terus memberi manfaat dan mensejahterahkan masyarakat Luwu Utara, terus memberikan ide dan inovasi. Sukses, salama dan sehatki selalu Ibu Indah andalan banyak anak muda dan banyak orang.


 dimuat oleh media online www.nkriberbagi.com edisi 23 Maret 2017

Senin, 20 Maret 2017

Anak Usia Dini dengan Media Sosial




Anak Usia Dini dengan Media Sosial di SIT Asshiddiq Bone

Perkembangan moral dan agama, perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan/kognitif (daya pikir, daya cipta), sosio emosional (sikap dan emosi) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan sesuai kelompok usia yang dilalui oleh anak usia dini.(Permendiknas no 58 tahun 2009).

Masa emas anak dari usia 0-5 tahun juga pernah disampaikan pada forum kerja sama Pemerintah Kabupaten Bone dengan UNICEF beberapa tahun yang lalu dengan konsep Taman Paditungka, yang mengitegrasi lintas SKPD Kabupaten Bone. Masa emas yang dimaksud juga diiyakan oleh beberapa pakar meski dengan konsep dan gaya masing-masing diantaranya, J.H. Pestalozzi, F.W. Frobel, Maria Mentesori, Loros Maraguzzy, Jean Peaget, termasuk Ki Hajar Dewantoro dan banyak lagi yang melakukan kajian baik kekhususan maupun kepakaran.

Disampaikan bahwa merubah kebiasann kita untuk tidak membuang sampah saat berkendara mesti di mulai sejak usia dini. Berutur kata dengan baik pun baiknya dibiasakan sejak anak usia dini. Bakhan beberapa orang tua di Australia sudah mendaftarkan anaknya ke Sekolah Usia Dini sejak dikandungan usia 7 Bulan. Begitu berpengaruhnya mental, sikap dan masa keemasan anak di usia dini.

Sepintas dari judul bahwa anak usia dini yang menggunakan media sosial, namun bukan itu yang saya maksud untuk mengurai kemanfaatan media sosial untuk anak usia dini. Tetapi bagaimana media sosial dimanfaatkan untuk memaksimalkan program anak usia dini ini. Sekolah Islam Terpadu Asshiddiq Bone adalah salah satu yang memanfaatkan media sosial untuk membantu merangsang anak didiknya untuk perkembangan moral dan agama, perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan/kognitif (daya pikir, daya cipta), sosio emosional (sikap dan emosi) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan sesuai kelompok usia seperti yang diamanhkan oleh Permendiknas di atas.

Kegiatan untuk merangsang anak usia dini ini tidak bisa hanya dilakukan sepenuhnya pihak sekolah sebagai fasilitaor, tetapi yang lebih utama yaitu bagaimana orang tua juga bersinergi. Diharapkan orang tua lebih paham dan mengubah beberapa kebiasaan yang bisa mengganggu perkembangan anaknya. Berbagai alasan yang diungkapkan oleh orang tua siswa atas tuntutan dimaksud utamanya alasan sibuk, padahal waktu anak masih lebih banyak di rumah jika dibandingkan waktu di sekolah.

Mengsingkronkan kegiatan di sekolah dengan di rumah dengan banyak tuntutan parameter maka perlu kesepahaman siswa anak usia dini dengan orang tua siswa. Mengerti akan banyaknya parameter tujuan dan capaian pembelajar untuk anaknya. Memberikan pemahaman yang sama dengan melakukan kegiatan Pertemuan Orang tua Siswa (POS). Penggunaan media sosial untuk mengetahui informasi baik yang berlangsung di sekolah ataupun mengapdate perkembangan kegiatan anak yang telah diprogramkan sebelumnya oleh pihak sekolah.

Penggunaan media sosial ini menjadi menarik dan sangat membantu orang tua maupun ustazah (guru/tenaga pengajar di SIT Asshiddiq). Kebiasaan anak yang kadang diulang di rumah biasanya kadang menjadi perselisihan. Contohnya, anak yang di sekolah dilatih motorik kasar maupun halusnya dengan merobek-robek koran atau kertas bekas, juga dilakukan di rumah. Orang tua yang tidak mengerti dengan prilaku ini akan menjadi teguran buat anak, padahal ini adalah salah satu metode pembelajaran anak usia dini. Informasi yang di update tiap hari oleh ustazah di sekolah melalui media sosial chat aplikasi baik bbm maupun whatsapp, sangat membantu untuk mendukung capaian pembelajaran.

Komunikasi interaktif memalui media sosial di SIT Asshidiq, antara Orang Tua siswa dengan tenaga pengajar, mejadi sesuatu yang sangat bermanfaat untuk perkembangan anak usia dini. Semangat orang tua juga sangat antusias melihat perkembangan anaknya detik per detik dalam setiap kegiatannya di sekolah. Orang tua paham akan kurikulum dan sama membantu dalam memberikan rangsangan terbaik buat anaknya dengan berinteraksi melalui media sosial. Ransangan demi ransangan untuk perkembangan anak secara utuh juga menjadi bagian yang selalu di update oleh tenaga pengajar kepada orang tua siswa.

Tidak hanya kegiatan di sekolah, karena ada kegiatan trip ke lapangan (kebun,melihat hewan, ke kantor dan dinas dan tempat-tempat yang telah ditentukan) yang menjadi cerita seru oleh setiap siswa lucu dan imut dalam penyampaian ceritanya saat sampai di rumah. Orang tua siswa sisa mencocokkan cerita anaknya dengan informasi yang didapatkan di media sosial yang terkonseksi dengan tenaga pengajar (ustazah). Melihat foto dan video kegiatan menjadi penyemangat khusus orang tua siswa, melihat perkembangan anaknya yang difasilitasi oleh sekolah.

Suatu kebahagian dengan penuh harapan untuk mencipatakan generasi unggul. Memulai dari usia dini, memanfaatkan masa emas anak untuk asset daerah, agama, bangsa dan negara. Paham dan bersinergi melalui media sosial adalah salah satu kemanfaatan yang sangat baik. Bahwa media sosial bisa digunakan sejak usia dini oleh tenaga pengajar maupun orang tua siswa, atau bahkan ada nilai kemanfaat lebih lainnya.

tulisan ini dimuat di bonepos.com edisi 21 Maret 2017 

Rabu, 15 Maret 2017

Riak Media Sosial menjelang Pilkada Sulsel


Penggunaan media sosial untuk aktivitas politik di Indonesia sebanyak 110,3 juta pengguna dari 132,7 juta pengguna internet yang ada di Indonesia atau sekitar 75,6%, survei Assosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) November 2016. Media sosial ini semakin ramai digunakan pada saat menjelang hajatan besar politik serentak Indonesia yang akan diselenggarakan Tahun 2018 dan juga sudah ada yang berlangsung di tahun 2017 ini, temasuk di wilayah Sulawesi Selatan.

Selain pemeilihan Gubernur, ada 11 Kabupaten dan Kota di Sulawesi Selatan yang akan ikut kontestasi pilkada Bupati dan Walikota. Bone, Sinjai, Wajo, Sidrap, Pinrang, Enrekang, Luwu, Bantaeng, Jeneponto, Kota Parepare dan Kota Makassar.
Kontestasi Gubernurlah yang mengakibatkan seluruh Kabupaten dan Kota di Sulawesi Selatan terkena dampak gerakan mobilisasi untuk tahapan-tahapan menjelang pilkada ini, terkhusus 11 Kota dan Kabupaten yang disebutkan di atas yang dampaknya menjadi ganda karena mobilisasi dimaksud yang belum ingin dikatakan gerakan kampanye oleh masing-masing tim pemenangan. Tidak heran dengan banyaknya gerakan reuni, deklarasi Ikatan Alumni, jalan santai temu kangen dan semacamnya yang gerakan ini di mobilisasi menggunakan media sosial.

Media sosial adalah sasaran empuk untuk semua mobilisasi dimaksud. Baik media sosial dalam kategori social network (Facebook, Google+, Twitter, Youtube, Instagram dan lainnya) maupun media sosial yang berupa Chat Aplication ( BBM, Whatsapp, facebook messenger, line, wechat dan lainnya). Group media sosial yang dulunya kurang aktif menjadi aktif dengan banyak basa basi dan bahkan banyak group-group baru yang tiba-tiba muncul untuk dikonfirmasi. Akun baru mulai bermunculan dengan gerakan-gerakan yang bermuara ke jagoan masing-masing. Terbentuk tim media sosial sendiri, mengatur yang dianggap perlu untuk dicitrakan, membuat desain-desain yang kreatif, gambar, video dan narasi-narasi. Bahkan media massa, cetak dan media elektronik dalam penyempaian informasi di copy linknya atau di potong sedemikian rupa bahasannya untuk di viralkan di media sosial dengan tujuan pencitraan tadi.

Merupakan strategi untuk memanfaatkan media sosial ini, selain gratis dalam biaya produksi sosialisasi, juga bisa menembus sampai pelosok. Sahut-sahutan mulai bermunculan, adu argumen juga tidak terhindarkan, maka jangan heran bila lagi kumpul bersama teman, ada teman kita yang mukanya terlalu serius mengetik dan kadang berbicara sendiri. Yang tidak punya jagoan sekali pun juga ikut-ikut serius untuk membantah atau membernarkan beberapa argumen, dan kadang beberapa diantaranya berpendapat tanpa data yang baik dan dasar yang jelas.

Strategi memanfaatkan media sosial ini sudah sangat familiar dan popular di Indonesia saat pemelihan Presiden terakhir yang memilih Jokowi sebagai presiden Indonesia. Gerakan demi gerakan, tim khusus media sosial yang sering dikenal denan istilah buzzer saling adu kebolehan. Berbagai macam isu diviralkan untuk kepentingan pemenangan dan atau bahkan untuk komitmen kontrak yang telah disepakatinya. Media massa saat ini juga benyak mengangkat tema dan bahasan di liputannya tentang kegiatan yang ada di media sosial.

Belajar dari pengalaman yang ada bahwa pemanfaatan media sosial ini kadang hanya riak saat kentestasi pilkada saja dan setelahnya tidak lagi, riak dalam arti memanfaatkannya saja. Setelah terpilih media sosial itu seakan tidak lagi penting dan mulai egois dalam penggunaanya, hanya ingin menampilkan apa yang menjadi penting baginya tidak lagi peduli akan masukan-masukan dari lapangan melalui media sosial seperti saat menjelang pilkada. Apakah hanya karena tim buzzernya tadi hanya terikat kontrak, atau tim tersebut hanya dibuat untuk pilkada dan setelahnya lalu dibubarkan, atau bahkan seperti pribahasa lupa kacang akan kulitnya.

Hal ini seirama oleh hasil survei APJII yang menyatakan bahwa ada sekitar 90,4% pengguna media sosial dimanfaatkan untuk sosialisasi kebijakan pemerintah. Namun sosialisasi kebijakan ini tidak tergambarkan mengenai proses pengambilan kebijakan dimaksud, bisa saja kebijakannya semua top down seperti biasanya. Ini karena masih banyak sahut-sahutan di media sosial akan janji palsu, banyak teriakan media sosial yang sengaja diabaikan oleh pemerintah yang sedang berkuasa. Anehnya lagi menjelang pilkada tiba-tiba bakal calon incumbent merespon baik media sosial yang sangat bertentangan dengan prilaku mereka 4 tahun sebelumnya setalah terpilih menjadi kepala daerah. Bahkan ada salas satu kepala daerah di Sulawesi Selatan yang menyalahkan media sosial sebagai biang masalah perceraian masyarakatnya.

Media sosial yang digunakan saat dibutuh, dan dicampakkan bila tidak lagi menyangkut kepentingan politik, kelompok, gologan bahkan pribadinya, mungkin karena gratis. Media sosial saat ini sudah sangat akrab dengan masyarakat, kadang keluh kesah masyarakat dicurhatkan di media sosial, berharap pemerintahnya mendengarnya, wakil rakyatnya menyambutnya dan aparatur sipil negara yang ada untuk melayaninya merespon baik untuk itu. Banyak harapan disana yang sacara substansi sangat mudah dan baik dalam rangka menerima masukan masyarakat dalam menjalankan pelayanan publik sebagai mana mestinya. Harapan yang memungkinkan menjadi masukan dalam penyusunan rencana kerja perangkat daerah dan atau harapan yang arahnya monitoring, evaluasi, controling masyarakat dalam pelaksanaan dan implementasi dari setiap kebijakan yang dibuat. Masukan mengenai berlangsungnya penyelenggaraan pemerintah dan pemerintahan dengan baik sesuai dengan harapan.

Harapan penggunaan media sosial oleh para bakal calon peserta kontestasi pilkada di Sulawesi Selatan menjadi harapan yang sama oleh masyarakat dalam menggunakan media sosial ini untuk menyampaikan aspirasinya setelah mendapatkan Bupati, Walikota atau Gubernur baru nantinya. Bukan malah membungkam mereka dengan gerakan, gerakan yang mengatasnamakan rakyat tetapi berlatar belakang politik untuk kepentingan dan egonya masing-masing dan membenturkan antar masyarakatnya sendiri. Mereka yang ingin mendapatkan keuntungan sendiri dengan saling membenturkan masyarakatnya. Bukankah mereka dipilih untuk melayani? Untuk menjalankan amanah rakyat yang memilihnya dan mengelola dengan baik uang tabungan rakyatnya dari hasil pajak yang dipungut olehnya.

Media sosial sudah selayaknya menjadi media yang mendewasakan masyarakat, juga Bupati, Walikota dan Gubernur terpilih nantinya, media yang bisa dimanfaatkan dengan sangat baik. Cerdas dalam menyikapi setiap perkembangan informasi yang ada didalamnya dengan mencari sumber dan data yang jelas dari informasi yang ada di media sosial dimaksud. Mengkonfirmasi informasi bila ada yang dianggap perlu disesuaikan agar tidak menjadi informasi hoax dan menjadi sasaran pertikaian antar masyarakat. Harapan baru pemanfaatan media sosial juga untuk mereka yang antinya terpilih untuk menahkodai wilayahnya masing-masing untuk membentuk tim media sosial seperti saat mereka ingin menjadi gubernur,bupati dan walikota, untuk memilah informasi yang baik dan memisahkan yang tidak jelas kemanfaatannya untuk masyarakat, sehingga media sosial ini tidak menjadi ancaman buat kita namun menjadi kekuatan untuk Sulawesi Selatan termasuk wilayah kota dan kabupatennya.

tulisan ini dipublikasi oleh media:
inidesa.com edisi 15 Maret 2017
bonepos.com edisi 15 Maret 2017
titahtimur.com edisi 15 Maret 2017
nkriberbagi.com edisi 15 Maret 2017



Selasa, 14 Maret 2017

Desa dengan media sosial sebagai perwujudan Desa Cyber


Kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, defenisi desa menurut Undang-undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Selanjutnya dipertegas dukungan landasannya melalui PP No. 8 Tahun 2016 dan Permen Desa, Pembangunan Desa tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia No. 22 Tahun 2016 mengenai pendanaanya.

Tujuan pengaturan desa yang diamanatkan Undang-undang ini beberapa diantaranya memungkinkan dapat tercapai dengan memanfaatkan fasilitas Desa Cyber layaknya di beberapa daerah yang telah dijadikan desa percontohan misalnya Desa Kaligondo di Kabupaten Banyuwangi dan juga Desa Campurejo Kabupaten Tumanggung. Secara subtansi Desa Cyber ini memberikan layanan koneksi internet, pengetahuan internet positif terhadap masyarakatnya, memanfaatkan fasiltas internet untuk mendatabase potensi desa, mengeksplore potensi desa, menjalin komunikasi dengan sesame warga desa di rantauan, hingga memanfaatkan ke fasilitas-fasilitas yang mendukung pendidikan, mengikuti perkembangan teknologi informasi dan sampai ke sarana bertukar fikiran.

Layanan yang difasilitasi oleh konsep Desa Cyber ini sebenarnya mengkomodir tujuan dari pengaturan desa Undang-undang No. 6 Tahun 2014 pasal 4 poin (c) melestarikan dan memajukan adat, tradisi dan budaya masyarakat desa. Poin (d) mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat Desa untuk pengembangan potensi dan Aset Desa guna kesejahteraan bersama. Poin (e) Pemerintahan Desa yang profesional, efisien dan efektif, terbuka, serta bertanggung jawab, dan beberapa poin dan pasal lainnya. Permen No 22 Tahun 2016 juga sangat erat kaitannya dengan adanya Desa Cyber dimaksud seperti pada pasal 3 poin (d) dan (e), pasal 4 ayat (1) dan bahkan diperjelas di ayat (2) mengenai transparansi penggunaan dana desa untuk khalayak ramai yang mudah diakses.

Dari kaitan keduanya yakni arahan dari landasan hukum pengelolaan Desa termasuk anggarannya dengan Desa Cyber memang saling mendukung, tetapi butuh usaha dan waktu untuk perwujudannya, ada banyak rentetan yang akan dilalui, mulai dari fasilitas berupa fisik maupun fasilitator yang kompeten untuk memberikan pemahaman manusianya. Tanpa mengurangi subtansi yang ada baik subtansi arahan Undang-udang dan turunannya maupun subtansi Desa Cyber ini tawaran yang menarik adalah pemanfaatan media sosial untuk mendukung tujuan dari pengelolaan penyelenggaraan pemerintahan desa.

Tahapan-tahapannya akan lebih mudah dan tidak kaku tetapi pemanfaatannya tidak terlepas dari subtansi yang ada. Untuk coverage (daya jangkau) fasilitas jaringan internet operator Seluler di Indonesia Timur khususnya di Pulau Sulawesi sudah agak memadai untuk cakupan desa, tanpa harus dipungkiri masih ada beberapa desa yang tidak tercover. Namun secara persentase desa yang tercover fasilitas internet untuk terkoneksi media sosial bisa menjadi solusi untuk pencapaian beberapa tujuan pengaturan desa yang ada.

Selain media sosial yang berupa sosial network seperti Facebook, Google+, Twitter, Youtube, Instagram dan lainnya, juga ada media sosial untuk messenger/chat app/ voip seperti BBM, Whatsapp, facebook messenger, line, wechat. Dalam pengaplikasian media sosial ini di Desa, dapat memanfaatkan keduanya baik sosial network maupun chat app. Dalam hal publikasi potensi desa bisa menggunakan sosial network termasuk publikasi penggunanan anggaran maupun pendanaan yang ada sebagai amanah undang-undang dan aturan setelahnya mengenai transparansi, keterbukaan akan pengelolaan Desa, juga sebagai ajang promosi untuk meningkatkan kepercayaan investor. Youtube bisa dimanfaatkan sebagai panduan dalam mengeksplore potensi-potensi desa yang ada termasuk tutorial-tutorialnya.

Media sosial untuk fasilitas Chat App (aplikasi chating/komunikasi dua arah) bisa dimanfaatkan untuk membuat group sebagai ajang silaturahmi dana tau ajang bertukar informasi, ide dan fikiran untuk sama membangun desa termasuk komunikasi dengan fasilitator dana tau orang-orang yang tergabung dalam organisasi untuk pengembangan desa. Juga sangat memungkinkan untuk berdiskusi dua arah terhadap fasilitator, mediator ataupun investor yang berkenan mengeksplore potensi-potensi desa yang dianggap perlu untuk dimanfaatkan baik dalam harapan kesejahteraan masyarakat desa. Keuntungan lainnya dengan memanfaatkan media sosial adalah proses dan tat acara penggunaanya tidaklah serumit penggunaan aplikasi khusus seperti aplikasi-aplikasi pengembangan Desa Cyber namun aplikasi ini sudah sangat familiar sampai ke Desa.

Setiap kemanfaatan yang ada dari fasilitas-fasilitas baru, akan terbayangi dengan hal-hal negatif. Hal-hal ini tidak terhindarkan karena hampir semua kemanfaatan akan berbarengan paket dengannya. Ilmu Pengetahuan sekali pun akan tetap mampu menjadi pisau bermata dua, bisa sangat bermanfaat dengan tujuannya dan bahkan bisa sebaliknya. Penghindaraan untuk pemanfaatan media sosial ini bukanlah solusi yang sangat baik, tetapi mengarahkan penggunaanya ke hal yang berfanfaat akan menjadi suatu proses untuk pendewasaan masyarakat menghadapi perdagangan bebas yang ada termasuk era MEA. Pendampingan penggunaanya akan hal yang sangat indah untuk membangun desa dengan bermedia sosial sebagai perwujudan Desa Cyber, bahwa pemanfaatan yang baik masyarakat desa untuk media sosial akan memudahkan pengembangan Desa Cyber seperti beberapa Desa yang telah menjadi Desa Cyber percontohan


Tulisan ini dimuat di 
media online inidesa.com edisi 14 Maret 2017
media online nkriberbagi.com edisi 14 Maret 2017


Minggu, 12 Maret 2017

Alasan ASN daerah disarankan Peduli Media Sosial



Alasan ASN daerah disarankan Peduli Media Sosial

Pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, perekat dan pemersatu bangsa adalah amanah Undang undang Nomor 5 Tahun 2015 tentang fungsi Aparatur Sipil Negara. Ketiga fungsi ini akan maksimal bila mengerti dan memahami kondisi masyarakatnya. Dinamisnya perubahan dan bahkan perkembangan teknologi akan menjadi tantangan baru untuk menyesuaikan pola agar kiranya fungsi dimaksud bisa berjalan dengan sesuai yang di amanahkan.

Beberapa fakta dari dua hasil survei terbaru memaparkan mengenai perlunya beradaptasi dengan teknologi utamanya media sosial dalam upaya mengetahui kebiasaan masyarakat yang akan dilayani dan menjadi dasar tentang bagaimana mesti meresponnya.

We Are Social merupakan lembaga survei yang merilis Digital in 2016 yang merangkum tentang global digital, social, and mobile data, trends, and statistics. Survei dilakukan untuk 232 Negara di dunia termasuk Indonesia. Hasil surveinya memaparkan bahwa pengguna Handphone di Indonesia telah melampaui jumlah penduduknya yakni sekitar 126%, dimana jumlah penduduk Indonesia yang didatabase olehnya sejumlah 259,1 juta jiwa dan pengguna Handphone sekitar 326,3 juta pengguna.  34% dari jumlah penduduk Indonesia aktif menggunakan Internet dan 30% dari jumlah penduduk dimaksud adalah pengguna media sosial aktif atau sekitar 79 juta pengguna. Ada 66 juta pengguna media sosial di handphone dan smartphone sedangkan untuk peningkatan pengguna media sosial ini dari Januari 2015 ke Januari 2016 sekitar 10%.

Penggunaan media sosial oleh penggunanya rata-rata digunakan selama 2 jam dan 51 menit dari semua media termasuk handphone, laptop dan PC. Penggunaan media sosial dimaksud dibagai menjadi 2 kategori yakni jejaring sosial dan applikasi chating. BBM (chat app) adalah peringkat pertama dalam penggunaanya sekitar 19%, menyusul FB (social network) 15%, Wahatsapp (chat app)  14%, FB Massanger (chat app) 13%, sedangkan line (chat app) diangka 12%.

Data ini adalah fakta perilaku masayarakat kita saat ini dan menjadi penting untuk dijadikan pertimbangan dalam proses penentuan kebijakan baik dalam pelaksanaannya dan atau sebagai perekat dan pemersatu bangsa sesuai amanah Undang-Undang ASN. Analisis SWOT menjadi bagian yang menarik bila disandingkan dengan fungsi ASN dimaksud, bahwa dengan kondisi ini, apakah akan menjadi tantangan baru atau bahkan menjadi ancaman, berikut bisa menjadi peluang juga menjadi kekuatan baru dalam mengelola pemerintahan yang penggerak utamanya adalah ASN baik PNS maupun PPPK.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga merilis fakta mengenai infografis penetrasi dan prilaku pengguna Internet di Indonesia hasir survei yang dirilis November 2016. APJII menggunakan 7 parameter untuk mengukur penetrasi pengguna Internet di Indonesia dari survei yang dilakukan, dan 20 parameter untuk mengetahui prilaku pengguna internet.

Data penetrasi pengguna internet sekitar 34,9% dari jumlah penduduk atau sekitar 88,1 juta pengguna hal ini seirama (in line) dengan hasil rilis Simon Kemp di We Are Sosial. 65% di pulau jawa, 15,7% pulau Sumatra, 6,3% pulau Sulawesi, 5,8% Pulau Kalimantan, 4,7% Bali Nusa dan 2,5% Maluku dan papua pengguna internet yang ada di Indonesia. Berdasarkan pekerjaan pengguna internet meliputi 62% atau sekitar 82,2 juta pengguna dengan latar belakang pekerja/wiraswasta.

Prilaku pengguna internet di Inodnesia lebih karena alasan update informasi sekitar 25,3% atau sekitar 31,3 juta pengguna, menyusul alasan pekerjaan dengan 20,8% berikutnya 10,3% karena sosialita. Porsi media sosial adalah terbanyak dalam hal jenis konten yang diakses dengan pengguna 129,2 juta pengguna atau setara dengan 97,4% dari total pengguna internet di Indonesia berdasarkan survei APJII ini. Media sosial lebih cenderung digunakan untuk berbagi informasi 97,5% dari pengguna internet yang ada di Indonesia. Urutan ketiga alasan penggunaan media sosial setelah alasan berdagang yakni untuk sosialisasi kebijakan pemerintah sebanyak 119,9 juta pengguna atau sekitar 90,4%, dan yang kelima setelah alasan berdakwah agama yakni untuk kegiatan politik 75,6% dari jumlah pengguna internet di Indonesia.

Ada 47,6% atau setara dengan 63,1 juta pengguna yang mengakses internet dengan menggunakan mobile phone dan hanya 1,7% yang mengakses melalui komputer (PC). Jumlah perangkat yang menggunakan hanya 1 perangkat mobile sebanyak 60,2 juta, menggunakan 2 perangkat 45 juta pengguna, 3 perangkat 15,8 juta pengguna, 4 perangkat 5,6 juta pengguna.

Data-data di atas menjelaskan tentang bagaimana masyarakat saat ini sangat peka dengan internet utamanya media sosial dan tidak jarang menjadi pengaruh dalam pengambilan kebijakan. Lembaga swasta sudah sangat siap akan kondisi ini dengan menempatkan devisi khusus yang mewadahi pengelolaan media sosial dalam organisasinya. Lembaga sosial masyarakat lainnya juga sangat aktif dalam hal penggunaan media sosial ini. Adalah alasan yang sangat tepat bila ASN sebagai tulang punggung pemerintahan disarankan peduli dengan media sosial mengingat kajian administrasi dan kebijakan publik adalah kombinasi antara government, private sector dan civil society dimana pemerintah sebagai fasilitator dalam menggerakkan pembangunan.

Mematangkan satu devisi khusus dalam pemerintahan yang menangani media sosial dan meminta semua ASN bereselon aktif untuk menggunakan dan atau memonitor media sosial untuk keberlangsungan fungsi ASN dalam UU Nomor 4 Tahun 2014 adalah langkah yang baik. Lebih dini mendapatkan informasi, memilah informasi dan atau mengabaikan informasi yang dianggap tidak penting (hoax). Mencermati dan selalu mengawal kondisi wilayah dengan memonitor diskusi media sosial bisa menjadi bahan untuk perumusan kebijakan, pengambilan keputusan atau masukan perencanaan yang sifatnya bottom-up atau partisipatif.

Tulisan ini d publiah oleh media Bonepos.com edisi 12 Maret 2016



Jumat, 10 Maret 2017

Media Sosial untuk Aparatur Sipil Negara di Daerah




Media sosial merupakan tempat di mana mereka (penggunanya) dapat terhibur, berkomunikasi, dan berpartisipasi dalam lingkungan sosial, ini penjelasan Bercovici mengenai media sosial. Antony Mayfield juga mendeskripsikan media sosial sebagai ajang membagi ide, bekerjasama dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berpikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas.

Kedekatan media sosal dengan sesorang saat ini sudah hampir seirama dan bersamaan dengan denyut nadi penggunanya, apalagi dikalangan muda bahkan generasi diatasnya pun dipaksa untuk mengikuti kebiasaan menggunakan media sosial ini. Aparatur Sipil Negara sekali pun yang juga bagian dari kalangan muda dan kalangan generasi 60-70an yang juga terkontaminasi dengan media sosial ini.

Keseringan penggunaan media sosial dimaksud menjadi bagian yang menarik bila disandingkan dengan fungsi umum pelayanan publik yang menjadi tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Aparatur Sipil Negara. Kebijakan publik, pengambilan keputusan maupun tahapan perencanaan adalah bagian yang sangat dekat kontaminasinya dengan pemanfaatan media sosial di kalangan Aparatur Sipil Negara. Facebook, whatsapp, line, path, Instagram dan twitter adalah aplikasi media sosial yang lasim untuk kalangan Aparatur Sipil Negara di daerah.

Penyusunan agenda, formulasi kebijakan, legitimasi kebijakan dan evaluasi kebijakan merupakan unsur dan tahapan pembuatan kebijakan publik dari kajian Dunn. Tahap intelegensi,design dan choise juga merupakan unsur utama dalam pembuatan keputusan menurut Simon. Politik, teknokratik, partisipatif, top-down dan buttom-up merupakan amanah UU No 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

Ketiga penjabaran mengenai Kebijakan Publik oleh Dunn, Pengambilan keputusan oleh Simon dan UU No 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional merupakan hal yang sangat substantif dalam upaya pemberian pelayanan oleh Aparatur Sipil Negara di daerah. Semua unsur dan tahapan dari ketiganya yang dipaparkan akan sangat nyata bila coba disandingkan dengan penggunaan media sosial. Media sosial sebagai bagian pendukung informasi yang merupakan bahan baku dalam pengambilan keputusan, menjadi bagian dari penyusunan agenda ataupun evaluasi dalam suatu kebijakan. Bottom-up adalah masukan-masukan masyarakat dalam upaya perencanaan juga sangat memungkinkan untuk pemanfaatan media sosial.

Istilah Hoax merupakan celah dalam upaya penghindaran aparatur sipil negara utamanya di daerah untuk pemanfaatan media sosial, terkhusus untuk ASN yang kurang inovatif. Penghindaran media sosial juga menjadi tantangan digitalisasi prilaku birokrasi dalam hal tranparansi seperti kajian patologi birokrasi. Pembelaan akan tendensi pengguliran isu negatif dari kebijakan yang ada juga menjadi alasan penghindaran yang hampir menjadi upaya anti kritik dalam upaya memaksimalkan tupoksinya.

Saatnya lah mengikuti desakan perubahan pelayanan, inovasi reformasi administrasi (IRA) adalah rujukan untuk permasalahan birokrasi ini. Media sosial tidak dipungkiri menjadi pisau bermata dua, yang bisa sangat positif dalam penggunaanya dan juga sebaliknya. Suudzon dengan media sosial juga bukan hal yang bijak, menggunakannya sembari mengenali sedikit demi sedikit kebiasaan dalam penggunaan media sosial bisa lebih mendewasakan. Bisa memilah lebih dini yang menjadi hoax dan yang menjadi penting, menjadi alat kontrol dalam implementasi kebijakan yang ada, atau bahkan mendengar keluhan masyarakat yang tidak sempat terkunjungi fisik adalah hal yang sangat indah dalam pemanfaatannya, pemanfaatan oleh Aparatur Sipil Negara utamanya di daerah.

Media sosial yang dimanfaatkan dengan baik oleh Aparatur Sipil Negara di daerah akan menjadi bantahan produk ilmiah yang menyatakan bahwa perkembangan teknologi dan pemanfaatannya oleh masyarakat mengikuti deret ukur dan pemanfaatan teknologi oleh Aparatur Sipil Negara mengikuti deret hitung.


Tulisan ini dimuat oleh media on line
BonePos edisi 10 Maret 2017
titahtimur edisi 10 Maret 2017
penarakyat edisi 10 Maret 2017