Senin, 03 Juli 2017

Saya Bugis Saya Bangga #Bugismendunia, viral


Media online lokal kembali berseteru dengan media sosial

Susana lebaran yang dipenuhi silaturahmi terpantau dari ramainya media sosial, reuni dan penuhnya café. Sektika perbincangan terfokus dengan satu tema, tema yang viral di media sosial dan menjadi perbincangan di ajang silaturahmi yang ada di kampung saya maupun di beranda facebook saya, dibeberapa group lokal yg saya juga ikut bergabung. Banyak cara untuk mengekspresikan tema itu dan bermunculan meme dengan tulisan “saya Bugis Saya Bangga” dan bahkan di hastag dengan #bugismendunia.

Ditengah kehebohan dan suasana saya memaksimalkan waktu dengan keluarga, saya coba mengikuti sumber ramenya diskusi ini. Media lokal Fajar Online.com ternyata yang memicu ramainya diskusi ini, terlihat dari “capturan screen shoot” di facebook dengan judul “Saat Mall dipenuhi Bahasa Bugis…. Tanda Orang Kampung Sedang Liburan di Kota”. Seketika saya penasaran akan maknanya namun tidak sempat membaca karena masih larut dalam silaturahmi dan ketika mencoba membaca, linknya sudah dihapus.

Sambil mengamati saya coba melibatkan diri untuk menggali tema ini dengan larut didiskusi beberapa teman-teman komunitas, LSM maupun teman Jurnalis di salah satu café ternama di Bone. Dari penjelasan adik kami ketua Phinisi Sport Makassar, menyampaikan bahwa judul itu dikutip dari perkataan security mall yang diwawancarai oleh pihak fajaronline.com, kata Hezron yang sempat membaca tulisan dimaksud. Saya coba menyela bahwa itu berarti sudah sesuai karena dikutip dari sumber data atau sumber informasinya. Namun diskusi berlanjut , kemudian dari salah satu rekan jurnalis dan LSM lokal bahwa bilapun itu kutipan, tetapi ada redaksi dan editor yang tugasnya menyaring judul dan bisa lebih memikirkan dampak dari judul dimaksud tidak hanya berburu berita itu menarik dibaca dan banyak pembacanya.

Berjalan waktu DP “display picture” kemudian viral dengan tulisan “Saya Bugis Saya Bangga” dengan memasang foto masing-masing berdempetan dengan tulisan itu. Ada yang memposting dari aplikasi Path dan Intagramnya kemudian di link-kan dengan akun facebook ataupun twitter masing-masing. Ada pula yang memasukkan ke group masing-masing Whatsapp, Line, BBM apalagi di group reuninan yang lagi musim di kampung halaman dalam suasana lebaran.

Viralnya tema ini menurut saya adalah gerakan responsif yang dalam sosiologi dikenal dengan paham “primordial” paham kedaerahaan, akrab dengan sebutan “primordialisme”. Saya menanggapi kondisi ini dari sisi penggunaan media sosialya, termasuk penyebab dan atau akibat dari penggunaan dimaksud. Penggunaan media sosial akibat respon dari judul media lokal online yang kontroversial bisa menggiring SARA dan bisa pula akibat dari kontestasi politik juga bisa jadi persiapan kontentasi politik diluar dari kesalahan “human error” dalam kasus ini. Dihapusnya link dimaksud merupakan pemaknaan bahwa media online terdesak dengan media sosial. Dimana media online ini juga dibesarkan oleh media sosial dengan cara melampirkan link setiap berita yang akan diviralkan dan dianggap bisa menjadi alat untuk memancing banyaknya pembaca , kemudian media online bisa mendapatkan fee langsung dari penyedia jasa “cloud” dan internet lainnya ataupun dari iklan-iklan digital. Bila kurang berhati-hati maka arusnya bisa berbalik menjadi yang akan mematikannya.

Ketajaman pisau bersisi dua media sosial kembali nampak terlihat, bahkan bisa masuk di moment yang kita tidak sempat perkirakan. Teringat kejadian pencemaran Arung Palakka yang lalu yang mengarah ke SARA dan menjadi buah bibir bahwa hal itu untuk titipan persiapan Pilkada. Apakah judul fajar online ini juga mengarah ke persiapan dimaksud atau murni kesalahan, jawabanya masih sementara ditunggu mengingat belum ada muncul viral balasan di media sosial berkaitan dengan klarifikasi dari pihak fajar online. Multi tafsir akan terus bermunculan karena semua akan bebas menggiring isu liar di komentar-komentar media sosial. Baik dengan dasar, maupun tanpa dasar karena media sosial itu memang memungkinkan untuk hal dimaksud, hanya kedewasaan dari pengguna maupun pembacanya yang bisa mengurainya.

Sabtu, 1 Juli 2017 saya mengantar teman-teman Karate silaturahmi dan melaporkan kegiatanKarate ke Bupati Bone. Disela canda tawa saya sisipkan tema ini kebeliau dan ditanggapi sangat positif bahwa hal itu sangat baik, tentang tata penulisan itu teknis jurnalis, tetapi mestinya kita lebih melestarikannya lagi bahkan beliau detail dengan bekerjasama ke beberapa pihak untuk mendukung bahasa bugis melalui pelatihan teknis guru-guru di tingkat sekolah dasar yang sedang berlangsung. Beliau menyampaikan bahwa itu adalah identitas kita. Bahwa ciri budaya dengan sejarah yang  baik terlihat dari ada identitasnya, ada bahasa daerah termasuk huruf tulisannya, dan tidak semua memiliki itu.

Dua arah respon juga mengalir di media sosial mengenai berita fajar online, ada banyak yang juga sepaham dengan Bupati Bone meski bugis itu bukan hanya ada di Bone tetapi di banyak Kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan (Bulukumba, Sinjai, Maros, Wajo, Sidrap, Parepare, Pinrang, Pangkep, Barru dan beberapa kabupaten lainnya yang beririsan dengan bugis). Tetapi tidak sedikit yang merasa tersinggung dan beberapa yang menafsirkannya sebagai sebuah pengucilan terhadap suku tertentu dan menganggap bugis itu adalah kampungan.

Sebagai saran untuk viral ini, baiknya pihak fajaronline melakukan klarifikasi terbuka dan kembali melewati jalur-jalur yang membuat viral tulisan ini, untuk menghindari pihak-pihak yang mungkin akan memanfaatkan situasi. mengingat Pilkada Propinsi (Gubernur) dan 11 Kabupaten Kota di Sulawesi Selatan bakal digelar, ada yang memungkinkan menyiapkan tim cyber mereka untuk memanfaatkan situasi dan setiap momen yang bisa mengangkat elektabilitas. Bisa juga ada yang tidak peduli akan akibat dari situasi ini, mereka hanya peduli akan kepentingan mereka saja, bahkan bisa saja masyarakat akan curiga apakah memang fajaronline adalah bagian dari itu.


Saran ini untuk memberikan makna jelas dari pengambilan keputusan dalam penggunaan media sosial, bahwa tidak mengambil keputusan adalah suatu keputusan. “diam” adalah suatu keputusan, keputusan untuk tidak peduli akan situasi dan kondisi disekitar. Mengabaikan viral ini adalah suatu keputusan akan tidak khawatrinya akibat dari dampak penggunaan media sosial.

dimuat di media online lokal
bone terkini pada tanggal 3 Juli 2017

Rabu, 14 Juni 2017

Lembaga Hukum Saling Sindir di Media Sosial, tagar #OTT Recehan


Lembaga Hukum Saling Sindir di Media Sosial, tagar #OTT Recehan

Menggiring isu dengan media sosial terus menjadi lahan empuk untuk memanfaatkan kepentingan politik. Gaung Pilpres 2019, Pilkada 2018 dan efek Pilkada 2017 terus menjadi kombinasi apik dalam percakapan dan sahut-sahutan di media sosial. Tagar OTT Recehan di media sosial seketika heboh, dengan istilah dunia teknologi “virus virtual” atau lasim dengan ucapan “viral”. Viral karena direspon oleh banyak kalangan, termasuk saling sindir antarsesama aparat hukum dengan beda institusi, respon nitizen dan bahkan direspon oleh wakil ketua DPR RI.

Tagar OTT (Operasi Tangkap Tangan) recehan, bermula saat kasus suap proyek di Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VII Propinsi Bengkulu yang nilainya mencapai 90 miliar melibatkan Kasi III Intel Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu Parlin Purba, dengan alat bukti uang senilai 10 juta saat OTT. NIlai uang 10 juta ini diduga KPK bukan pertama kali bagi Parlin, bahwa sebelumnya diduga telah terjadi penerimaan uang dengan nilai 150 juta. Karena dinilai jumlahnya 10 juta tidak terlalu besar dengan beberapa OTT yang ada sebelumnya, mungkin dianggap oleh 2 oknum Jaksa yang memotret dirinya dengan tulisan yang ditagar dengan #OTT Recehan yang menjadi viral.

Jaksa yang mem-viralkan OTT Recehan ini, viral dengan 2 foto yang beredar di media sosial maupun dan pemberitaan media online lainnya, yang isinya “Kami terus bekerja walau anggaran terbatas, kami tetap semangat walau tanpa pencitraan, kinerja kami jangan kamu hancurkan dengan #OTT recehan”. Dan foto kedua dengan tulisan “Sudah ribuan perkara korupsi kami tangani, sudah trilyunan uang negara kami selamatkan. Kinerja kami jangan kau hancurkan dengan #OTT Recehan”. Tagar ini dibuat di kertas putih dan terlihat diprint lalu dipegang oleh masing-masing Jaksa laki-laki dan Jaksa perempuan.

Tulisan “#OTT Recehan” dikatakan sebagai bentuk kekecewaan terhadap OTT yang dilakukan KPK oleh oknum Jaksa di Bengkulu. Namun pada hasil wawancara petinggi Kejaksaan, menyampaikan bahwa itu wujud spontanitas kekecewaan Jaksa terhadap Oknum sejawatnya sesama Jaksa, mungkin untuk tidak memperkeruh situasi sahut-sahutan dan saling sindir di media sosial. Sahut-sahutan terjadi karena beda pandangan atas kejadian OTT ini, ada yang berpendapat bahwa tidak perlu dilakukan OTT karena jumlahnya hanya 10 Juta. Tetapi dengan pandangan berbeda juga menyatakan ini adalah hal yang benar untuk mengamankan negara ini dari Koruptor, meski dengan nilai yang kecil tetapi untuk korupsi tidak ada toleran dan bahkan bila dibiarkan maka akan memungkinkan terjadi kasus korupsi yang lebih besar lagi.

Saling sindir dengan argumen masing-masing, menjadikan tagar #OTT Recehan menjadi semakin viral. Saling sindir terjadi antara sesama aparat Hukum Kejaksaan dengan KPK yang dilakukan oleh masing-masing oknum diantara 2 lembaga dimaksud. Akun resmi twitter masing-masing lembaga ini terlihat juga saling sindir. Akun twitter Kejaksaan RI memposting cuitan dengan mengarahkan bahwa hasil OTT ini adalah oknum, tidak untuk digeneralkan ke semua jaksa atau institusinya, dan belakangan muncul dengan berbagai tampilan kinerja Kejaksaan termasuk memposting jumlah kesluruhan Jaksa yang ada di Indonesia, mungkin maksudnya sebagai pembelaan. Akun twitter KPK RI juga seakan melakukan pembelaan terhadap OTT Recehan yang dimaksud oleh oknum jaksa dengan beberapa cuitan tentang gratifikasi yang tidak wajib dilaporkan, tentang nilai-nilai kejujuran dengan memaparkan hasil survei KPK tahun 2012-2013 di Jogja dan Solo bahwa hanya 4% orang tua yang mengajarkan nilai-nilai kejujuran. Cuitan KPK ini seakan mengarahkan bahwa meski 10 juta yang dianggap recehan itu tetaplah semua perilaku yang tidak jujur.

Sahutan memperkuat tindakan KPK datang dari lembaga yang selama ini selalu ada untuk mendukung KPK yakni ICW, beberapa kali argumen disampaikan ICW oleh beberapa perwakilannya dalam berbagai wawancara yang terekam oleh media dan juga beberapa argument yang ada dalam media sosial. Tidak mau kalah, Fahri Hamzah juga berbendapat di media sosial miliknya yang dalam kesimpulan, umumnya menyampaikan mengenai serangan dan sindiran yang mengarah ke KPK dengan tagar #OTT Recehan. Karena dilakukan oleh pejabat politik dalam lingkup legislatif seakan mengarah ke ranah politik. Bila mengaitkannya dengan proses pilkada DKI Jakarta sebelumnya Fahri Hamzah terpantau berada tidak sejalan dengan Ahok, dan Ahok diidentikkan dengan kejujuran yang mendekatkan pencitraanya ke KPK. Ditambah lagi kaitan KPK dalam kasus Amin Rais, seakan ada tendensi politik padahal KPK adalah lembaga Hukum. Amin Rais juga terlihat sebagai penggerak aksi-aksi dalam gerakan-gerakan yang dianggap pemerintah sebagai gerakan makar atau gerakan yang dalam upaya untuk menggoyahkan pemerintah.

Saling silang sindiran atau bahkan ada yang mengarah (tidak hanya menyindir) saat memberikan argument di media sosial dengan berbagai sudut pandang mereka. Secara utuh terlihat saling sindir di media sosial ini dilakukan oleh dua lembaga hukum kita yakni Kejaksaan dan KPK dengan tagar yang viral #OTT Recehan, saling menguatkan argumen, dan argument-argumen ini beberapa terkait dengan politik. Entah benar adanya, karena semua akan terus mempertahankan diri dengan kebenaran masing-masing, dengan sudut dan cara pandang yang juga dengan versi yang berbeda. Kebenaran akan hal ini juga tidak mudah menyimpulkannya karena update media sosial sangat dinamis, terus bergerak tiap detiknya. Media sosial juga sebagai wadah pembangun opini yang cepat akan selalu membingungkan jika terjadi perdebatan karena sangat cepat dalam publikasinya dan terus akan terjadi saling sindir didalamnya.


Baiknya untuk informasi yang baik di media sosial melihatnya dari dua pihak tidak hanya melihat sedikit lalu menyimpulkannya. Penulis tidak dalam ranah menyimpulkan saling sindir ini, tetapi lebih ke pemanfaat media sosial yang dimanfaatkan dengan adanya kasus hukum antar lembaga, dan juga meraba dalam kasus ini bahwa media sosial dalam penggiringannya ada kaitannya dengan politik yang butuh akan pengigiringan opini.


M. Awaluddin A.
Mahasiswa Program Doktor Administrasi Publik UNM Makassar

tulisan ini dimuat oleh media online lokal
boneterkini.com pada Rabu 14 Juni 2017

Kamis, 08 Juni 2017

Persekusi Akibat Kurang Dewasa Memanfaatkan Media Sosial


Merujuk defenisi persekusi, sebenarnya sangat dekat dengan kegiatan kita dalam bersosial media. Terkhusus di Kabupaten Bone yang menjadi salah satu dari 11 Kabupaten/Kota yang akan berkompetisi di kontestasi Pilkada 2018 di Sulawesi Selatan. Mempertajam hasil survei APJII (Assosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) mengenai penggunaan media sosial dalam ragam aktivitas, mempublikasikan angka 75,6% atau setara 100,3 juta pengguna media sosial yang setuju memanfaatkan media sosial untuk berpolitik (survei 2016).

Persekusi yang marak belakangan ini adalah akibat dari penggunaan media sosial yang kurang dewasa. Melampiaskan kekesalan dan atau perasaan hati yang berlebihan dengan keadaan emosi ke media sosial. Tidak memperkirakan akibat dari apa yang ditampilkannya dalam status atau komentar media sosial ini. Atau dengan sengaja menampilkan status dan komentar dengan tujuan pribadi atau kelompok yang menguntungkannya, bisa juga untuk menyerang pribadi dan kelompok yang merugikannya.

Memperhatikan hasil survei perilaku media sosial oleh APJII, sangat memungkinkan untuk memanfaatkan situasi politik dalam bermedia sosial. Menggiring isu agama dalam bermedia sosial, juga “diiya”kan APJII, bahwa ada sekitar 108,6 juta pengguna media sosial di Indonesia yang setuju menggunakan media sosial untuk kepentingan berdakwah agama, sekitar 81,9%. Membenturkan agama dan politik ini dalam bermedia sosial menjadikan potensi persekusi akan bermunculan di banyak daerah. Daerah yang berpotensi adalah daerah yang ada massa organisasi agamanya dan pengguna media sosial di daerah tersebut kurang dewasa dalam memanfaatkan media sosial.

Tempat teratas dalam perilaku media sosial di Survei APJII dalam ragam aktivitas yakni untuk “berbagi informasi” (97,5% setara 129,3 juta pengguna), juga “Sosialisasi Kebijakan Pemerintah” yakni ( 90,4% setara 119,9 juta pengguna). Untuk sosialisasi kebijakan adalah bagian yang memungkinkan aparatur baik ASN ataupun TNI dan POLRI memanfaatkan media sosial ini. Khusus peringkat pertama yakni “berbagi informasi” kalangan media akan banyak memanfaatkan potensi ini dengan baik dan ada juga sebahagian memanfaatkan untuk penggiringan isu.

Pemetaan perilaku bermedia sosial betul nyatanya memudahkan terjadinya “persekusi” dengan menggunakan media sosial seperti yang terjadi saat ini, dan memungkinkan masih ada kejadian “persekusi” yang tidak atau belum sempat terpublikasi, atau sengaja dilakukan penggiringan isu, bahkan ada disekitar kita. Yang berperan memicu isu dalam bermedia sosial yakni, pemerintah, swasta, lembaga sosial kemasayarakatan dan media. Dari kajian administrasi publik empat unsur ini berpengaruh dalam menentukan arah prilaku masyarakat, dan bila salah satu diantaranya tidak berkolaborasi maka potensi konflik memungkinkan terjadi termasuk memicu terjadinya “persekusi”.

Mengolok-olok di media sosial adalah prilaku yang kurang dewasa, berargumen dan saling komentar tanpa berfikir akibat dari komentar yang diposting di media sosial juga bagian dari kurang dewasanya dalam penggunaan media sosial. Dampaknya akan memudahkan penggiringan isu dari pihak-pihak yang akan memenfaatkan situasi, utamanya situasi politik yang menggiring semua hal untuk memudahkan pencapaian tujuan pribadi atau kelompoknya. Tanpa harus berfikir tentang kebersamaan, etika, budaya, nilai-nilai agama, sopan santun, kekeluargaan, moral maupun pancasila kita.

Bila kedewasaan diukur dengan perkataan dan perbuatan yang baik dalam budaya Bugis Bone  dikenal dengan “ada na gau", maka perlu ditambahkan yakni “bermedia sosial” atau saat ini dikenal dengan sebutan perilaku media sosial. Maka dalam membentuk karakter masa kini tidak lagi hanya memperhatikan cara berprilaku dan cara bertutur kata tapi juga cara menggunakan media sosial yang baik, mungkin usulan baik untuk dunia pendidikan.

Dewasa dalam memposting status atau komentar yang tidak memprovokatif yang bisa dijadikan alat provokasi. Tuntutan kedewasaan ini tidak hanya untuk masyarakat tapi lebih kepenggerak masyarakat ini yakni, pemerintah, swasta, lembaga sosial masyarakt dan juga media. Dalam takaran Kabupaten Bone lebih ke Pemerintahan Daerah dan ASN yang dalam jalur dekonsentrasi, aparat keamanan TNI dan POLRI, Lembaga Sosial Masarakat dan Lemaga Kepemudaan, juga teman-teman media, baik cetak, elektronik maupun media online.

Latah akan penggunaan media sosial akan menjadi bibit unggul dalam penggunaan media sosial yang provokatif dan bisa memicu tindakan “persekusi”, terlebih ke penggerak masyarakat (pemerintahan daerah, swasta, LSM dan Media) yang baru saja menggunakan media sosial, yang kebutuhan akan eksistensi diri sangat tinggi. Kurang percaya diri, akan potensi pribadi akan berusaha keras terlihat eksis di media sosial selain mereka yang punya kepentingan dalam bermedia sosial.

Untuk mencegah terjadinya “persekusi” dari dampak media sosial di Kabupaten Bone baiknya pendewasaan  penggunaan media sosial sering digaungkan, utamanya internal penggerak masyarakat, kiranya masyarakat bisa menyaksikan diskusi-diskusi yang membuahkan informasi yang membangun.


Persekusi akibat media sosial bisa dibungkan juga dengan media sosial, yakni mendewasakan diri dalam penggunaanya. Potensi persekusi akan mudah digiring dengan isu politik, mengingat baru saja dilaksanakannya Pilkada serentak tahun 2017 ini, kemudian digiring untuk persiapan Pilkada serentak Tahun 2018 dan dinasionalkan isunya untuk Pilpres dan Pemilu 2019. Dewasa menggunakan media sosial yakni tanggap menyikapi penggiringan isu politik termasuk yang memanfaatkan agama dalam pergerakannya.

M. Awaluddin A.

Tulisan ini dipublikasikan oleh media online
bonepos pada tanggal 

Persekusi “Trending Topik” dampak Media Sosial kekinian selain HOAX dan Bullying


"Mengenai persekusi, saya perintahkan kepada seluruh jajaran kepolisian, kalau ada yang melakukan upaya itu, jangan takut. Saya akan tindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku," ujar Tito Karnavian selaku Kapolri. Istilah persekusi ini tiba-tiba heboh dengan dua kejadian yakni korban Fiera seorang dokter di Solok Sumatera Barat dan inisial PMA di Jawa Timur dan keduanya dipicu dengan penggunaan media sosial.

Presekusi menurut KBBI merupakan  pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga disakiti, dipersusah atau ditumpas. Literature yang ada mengungkap bahwa persekusi ini erat kaitannya dengan penggiringan isu agama seperti yang terjadi pada umat kristiani di sekitar tahun 1960 dan 1970-an tentang larangan sekolah negeri untuk mensponsori acara keagamaan.  Penggunaan burqa (cadar) umat muslim di beberapa negara juga sering mengalami persekusi, sebagai contoh history persekusi yang ada.

Muncullah beberapa spekulasi, asumsi, argumentasi  mengenai pesekusi ini, dan bahkan menjadi “trending topic” di media sosial. Membenturkan kejadian Fiera dan PMA dengan pengusiran yang dialami Fahri Hamzah di Manado beberapa saat yang lalu, juga menjadi bahasan mengenai persekusi yang lagi marak. Damar Juniarto dari SafeNet bahkan memaparkan bahwa ada sekitar 59 orang yang menjadi target persekusi sejak 27 Januari 2017.

Apararatur dan regulasi kembali diuji dari derasnya arus digitalisasi utamanya media sosial, setelah maraknya transportasi online dan penggalangan massa 212 dengan media sosial, hoax, bullying dan kini persekusi. Penggiringan dan pengalihan isu dengan memanfaatkan media sosial seakan hal yang praktis dan efisien dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan tendensi tertentu. Bahkan momen hari lahir Pancasila sebagai upaya untuk kembali mempersatukan bangsa ini juga kesucian bulan Ramadhan seakan sulit membendung derasnya penggunaan media sosial.

Menyimak sepintas, pergeseran ini besar kaitannya dengan proses demokrasi yang ada, setelah Pilkada 2017, persiapan Pilkada 2018 dan pemilu 2019 nantinya. Ibarat bola salju, dampak digitalisasi yang dimotori oleh media sosial menggelinding sampai ke daerah. Proyeksi persekusi, sepertinya akan terus menggelinding sampai ke tingkat daerah, dan bahkan telah lama terjadi namun penamaan istilahnya baru trend dengan publikasi media sosial, trending topic dan 2 kejadian persekusi di atas.

Mengantisipasi persekusi ini terus berlanjut, langkah persuasif dan prepentif ada baiknya menjadi pilihan. Lebih dewasa dalam penggunaan media sosial menjadi hal yang sangat diharapkan oleh berbagai pihak termasuk Ridwan Kamil Walikota Bandung yang menyampaikannya dalam pemberitaan media.

Selalu mengkonfirmasi sumber informasi yang ada dari media sosial juga menjadi alternatif. Memikirkan dan mempertimbangkan lebih dalam lagi akibat dari apa yang ingin diungkapkan pada media sosial kiranya tidak memicu keresahan baik orang perorang maupun kelompok tertentu. Menahan diri untuk tidak mudah terpancing merupakan bagian mencegah persekusi ini.

Pemerintah baiknya lebih bijak lagi dalam menyikapi kegelisahan masyarakat dengan arus media sosial yang ada. Sosialisasi dengan pendekatan yang baik ke aparatur yang bersinggungan langsung dengan masyarakat untuk kedewasaan menggunakan media sosial. Efek jera adalah bagian dari pilihan solusi namun pun hal dimaksud baiknya menjadi pilihan terakhir.

Mengurai keruwetan pemanfaatan digitalisasi, sebenarnya ada pada penggunanya. Lebih dalam lagi ke aparatur pemerintah maupun pemerintahan, aparat hukum, pamong praja, tokoh masyarakat, tokoh agama yang sebagai pemegang pengaruh penuh dan pengendali masyarakat. Mengajak masyarakat dewasa menggunakan media sosial baiknya dimualai dari aparatur yang ada. Contoh pemanfaatan media sosial yang baik oleh aparatur akan menjadi penyejuk situasi, bukan malah membentuk kotak kotak untuk kepentingan dan tendensi tertentu apalagi untuk digeser ke kepentingan politik.

Perkembangan teknologi informasi mengikuti deret ukur dan perkembangan pemanfaatannya oleh aparatur mengikuti deret hitung, menjadi gambaran resiko yang semakin hari semakin bermunculan efek dari digitalisasi yang ada termasuk riaknya media sosial. Mendewasakan sesegera mungkin aparatur pemerintahan daerah bahkan pemerintah desa adalah bagian dari pilihan untuk dapat mempengaruhi kedewasaan masyarakat secara umum. Kolaborasi pemerintahan, swasta dan lembaga kemasyarakatan menjadi perlu untuk dapat mendukung penghindaran dampak negatif dari penggunaan media sosial bahkan harapannya media sosial bisa menjadi penguat masyarakat.

Regulasi sebenarnya telah mendukung, meski selalu mengantisipasi dampak dari cepatnya perkembangan dan respon masyarakat. Kecepatan respon aparat hukum juga menjadi bagian dari penghindaran persekusi. Undang-undang ITE kita sangat memungkinkan untuk mencegah terjadinya persekusi, seperti gambaran pasal 27 ayat 3 maupun pasal 28 ayat 2 dan beberapa pasal lainnya yang disesuaikan peruntukannya.

Mengantisipasi tidak terulangnya atau semakin maraknya persekusi ini dan menanti hukuman dari penetapan tersangka yang telah dilakukan oleh aparat hukum kita, ada beberapa kemungkinan ancaman yang dapat menjerat pelaku persekusi. Ancaman dimaksud yakni pasal 368 (pengancaman), pasal 351 (penganiayaan) atau pasal 170 (pengeroyokan) dalam KUHP kita.
Berharap persekusi ini bias diantisipasi dan menyejukkan kembali Indonesia kita.


M. Awaluddin A.

tulisan ini dipublikasikan oleh media online
bonepos pada tanggal 

Media Sosial di Ramadhan 1438H, antara ibadah,dakwah atau riya



Kesejukan Ramadhan 1438 H menjadi upaya untuk semua umat muslim di dunia memaksimalkan ibadahnya, berharap lipat ganda pahala dan pengampunan. Saling mengajak untuk memaksimalkan ibadah menjadi pandangan yang sangat aktif dilakukan di bulan penuh berkah ini.

Seperti lasimnya Ramadhan, akan banyak ibadah dan dakwah, ceramah tarwih, ceramah subuh, ceramah buka puasa dan banyak kesempatan lainnya. Media sosial juga menjadi wadah yang tidak luput dari aktif penggunanya dalam ramadhan ini, menjadi pengisi waktu untuk pengantar puasa, saling memberi informasi suasana dan aktivitas islami ramadhan dan juga menampilkan “quote” dakwah untuk kekinian.

Merujuk survei Assosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan survei “We Are Digital” tahun 2016 yang merata-ratakan pengguna Internet di Indonesia menggunakan waktunya lebih dari 2 jam dan 40 menit per hari, maka di bulan Ramadhan ini perkiraanya akan meningkat lebih dari itu. Pengguna media sosial juga dari tahun ke tahun semakin meningkat dalam penggunaanya, maka proyeksi untuk pengguna media sosial di Bulan Ramadhan tahun ini juga bisa diperkirakan meningkat.

Ketegangan bangsa ini efek aktifnya sahut sahutan di media sosial menyikapi proses demokrasi juga menjadi faktor aktifnya penggunaan media sosial di bulan penuh berkah tahun ini. Upaya untuk menetralisir suasana dengan berkah Ramadhan menjadi kesempatan yang sangat berharga.
Ramadhan yang dalam kesehariannya banyak dimanfaatkan untuk panen ibadah menjadi suasana yang hampir tidak pernah putus dalam status media sosial, time line dan lainnya. Mulai dari waktu sahur, imsak, sholat subuh, suasana puasa sebelum sholat dhuhur, sebelum sholat ashar dan keseruan menanti adzan magrib menjadi waktu yang paling ditunggu untuk berbuka puasa. Berbondong sholat tarwih, shalat witir, shalat malam, sampai kembali menanti sahur.

Mengabadikan semua momen di atas adalah keseruan tersendiri apalagi kesempatan saling menyapa semakin aktif. Memanfaatkan waktu ibadah sekalian mendakwah dan atau saling mengajak untuk bisa sama memanen pahala dalam memanfaatkan Ramadhan. Menulis status dalam kalimat tersendiri, menampilkan foto suasana Ramadhan sambil melampirkan status yang menyertainya atau share apa yang dianggap menarik untuk bisa memanfaatkan berkah Ramadhan.

Berdakwah dengan media sosial menjadi pilihan yang intens dilakukan di Ramadhan kali ini, dengan menyandingkan banyak keutamaannya dalam beberapa ayat yang dijadikan dasar untuk itu. Al Imran (3:104), Al Imran (3:110), Al Nahl (16:125), Al Qashash (28:87), Al Qashash (28:56) dan banyak lagi penguatan dalam ayat atau bahkan hadis lainnya. Berharap panen ibadah ini dimanfatkan maksimal termasuk kerumunan mata yang melototi smartphone masing-masing dengan banyak aplikasi media sosial aktif didalamnya.

Media sosial dengan dakwah versi kata dan kalimat, gambar atau meme, video mapupun live streaming menjadi pemanfaatan yang sangat sejuk dalam memaksimalkan Ramadahan yang penuh berkah di tahun ini. Semoga dengan niatan dan keteguhan ibadah yang mendasari, bukan dengan mengikuti kekinian atau bahkan menjadi Riya dalam pemanfaatanya. Yang tiba tiba berburu status untuk terlihat tetap menjaga rating terbaik di tranding topic sekitar.


Mari memanfaatkan bulan penuh berkah dan pengampunan di Ramdhan 1438 H / 2017 M dengan memanfaatkan semua fasilitas yang juga diberkahiNya. Termasuk fasilitas Media Sosial yang ada untuk menambah hikmat dan berkah ibadah. Memanfaatkan seutuhnya bulan pengampunan ini dengan tidak menambahnya dengan Riya.

dimuat oleh media online
bonepos di tanggal 2 Juni 2017

Minggu, 26 Maret 2017

Sykuran IPMP Lamappatunru Komisariat ManurungE ri Matajang



Anak muda kreatif kembali berkumpul di Jl. Bhayangkara lingkungan Laccokong Kec. Tanete Riattang Kab. Bone untuk bersama berucap syukur yang di pandu oleh ust Amir Langko. Wujud syukur atas pembukaan sekretariat komisariat Ikatan Pelajar Mahasiswa dan Pemuda (IPMP) Lamappatunru ManurungE ri Matajang. Kegiatan ini dilaksanakan ba'dah isya Sabtu 25 Maret 2017, dimana anak muda sebayanya sudah sibuk bermalam Minggu di beberapa tempat nongkrong yang keren-keren.

Komisariat ini adalah komisariat pertama di bawah naungan pengurus besar IPMP Lamappatunru yang sekretariatnya di Jalan Gunung Bawakaraeng. Ini adalah bukti eksistensi dari lembaga kepemudaan yang belum genap satu tahun mendeklarasikan kepengurusannya.

Komisariat ini juga telah dibentuk beberapa waktu yang lalu dengan turunan kepengurusan sesuai amanah AD dan ART organisasi ini dan diamanahkan kepada saudara Aswar sebagai Ketua Komisariat. meski baru dibentuk tidak berarti miskin gerakan, Ketua Komisariat Lamappatunru ini telah aktif mengarahkan kepengurusannya untuk melaksanakan program kerja yang telah dibuat sebelumnya. Salah satunya yang ramai beberapa hari yang lalu diberbagai media yakni perayaan hari jadi Bone ke-687 dengan menyapa Kakek tua Ambo Sakka di SibuluE.

Berkunjung beberapa pengurus besar IPMP Lamappatunru dan pembina juga anggota dan pengurus dari komisariat sendiri. Bersama berkumpul mengucap rasa syukur sembari menyicipi hidangan kue tradisional,onde-onde, sokko dan Palopo juga beberapa hidangan kue lainnya. "Kami berkumpul bersama mengundang pak ustad dan senior-senior untuk sykuran komisariat baru, semoga bisa mendukung pelaksanaan program kerja nantinya dan ini kami sewa dari dana swadaya teman-teman semua", penjelasan Aswar saat berdiskusi.

Rentetan canda dan tawa hadir dalam diskusi antar anggota organisasi ini, sembari mengevaluasi beberapa kegiatan yang ada juga membahas beberapa isu kekinian untuk dijadikan masukan dalam perencanaan gerakan-gerakan mereka selanjutnya. Gerakan yang ingin membawa perubahan ke arah yang lebih baik sebagai pengingat juga sekaligus pendukung pemerintah di beberapa lini yang belum sempat tersentuh namun di butuh oleh masyarakat.

Koordinasi juga terjalin termasuk perencanaan dalam kerja sama ke beberapa instansi terkait, termasuk kerja sama yang komunikasinya telah dibangun sebelumnya ke salah satu Dirjen Kementrian di Kementrian Pendidikan di Jakarta. "Sebenarnya kita sudah coba menjalin komunikasi di pemerintahan dengan jalur dari teman-teman baik di daerah maupun diluar, harapannya agar kami tetap bisa bersinergi dengan pemerintah dalam upaya sama membangun daerah", harap Sudirman yang biasa di sapa Bang Dhona.

Sukses selalu IPMP Lamappatunru
Disanjung tidak melayang
Diserang tidak tumbang





Sabtu, 25 Maret 2017

Meninggikan Kualitas dengan Media Sosial Dikerumunan Kuantitas, Efek Bola Salju Pencari Kerja

model : Andy Bondeng dan Lilis

Tuntutan kualitas SDM generasi muda untuk dunia kerja

Palopo, 25 Maret 2017

Tidak semua sarjana komputer bisa excel, tidak semua sarjana bahasa Inggris bisa speak englsih maka jangan berharap semua pria menyukai wanita (Jacop P. Sohilait). Kutipan dari teman yang mewawancara ratusan calon karyawan selama 3 hari berurut di Kantor Telkomsel Distribution Centre (TDC) Palopo. Kalimat ini diceritakan ke kami saat diskusi pagi ini yang prihatin dengan lulusan sarjana saat ini. Beliau adalah karyawan PT. Telkomsel untuk devisi Sales Outlet Operation Sub Branch Palopo, Branch Parepare, di Regional Sulawesi.

Seperti tulisan saya sebelumnya MediaSosial Andalan Para Pencari Kerja untuk Mengurangi Pengangguran, membahas tentang bagaimana media sosial berperan dalam mengurangi pengangguran, maka tulisan ini adalah keberlanjutan bahasannya tentang respon dari perwakilan perusahaan yang ingin merekrut karyawan. Respon bernada candaan namun menggugah hati dan fikiran akan kualitas sumber daya manusia (pelamar kerja) yang ada saat ini.


Ririn Kadoena, HRD PT. Comindo Mitra Sulawesi memilah data pelamar dan menyampaikan ada sekitar 90% lebih pelamar adalah Sarjana Strata satu (S1). Respon lowongan pekerjaan ini dengan media sosial bersambut baik dengan banyaknya pelamar yang memasukkan berkas dan mengikuti sesi wawancara dan tes kemampuan dasar sesuai kebutuhan perusahaan.

Banyak cerita muncul saat diskusi ringan merespon semua proses pengrekrutan karyawan ini. Bahasan yang muncul kemudian menarik adalah banyaknya pelamar yang hampir semua sarjana dan belum direkomendasikan. Mungkin karena memang beda disiplin ilmu dengan formasi yang ada atau memang mereka kurang siap dalam menghadapi tantangan dunia kerja. Yang saya khawatirkan adalah memang prosesi kesarjanaannya dan segala bentuk sistem terkait prosesi itu yang tidak selektif dan hanya memburu kuantitas bukan kualitas.

Terlalu jauh saya mengurusi hal tentang prosesi menjadi sarjana meski saya bagian yang mengikuti proses tersebut, namun perlu saya sampaikan informasi ini sebagai pengingat tentang kuantitas yang semuanya butuh kualitas. Kualitas yang bisa bersaing ditengah-tengah kompetisi semakin ketat dan selalu berhadapan dengan perubahan.

Banyaknya lulusan yang secara kompetensi masih sulit untuk bersaing di dunia serba kompetitif ini. Menjadi pengingat untuk generasi muda bisa mempersiapkan potensinya. Teruslah belajar dan mencari informasi-informasi yang bisa membangun potensi teman-teman sekalian. Banyak cara untuk itu, berkomunitas salah satu pilihannya untuk bisa menambah informasi mengenai perkembangan yang ada, perkembangan akan kondisi kekeinian, informasi mengenai seperti apa yang dibutuh untuk bisa diterima di perusahaan-perusahaan saat ini dan lebih mulia lagi bila mencari infromasi untuk bisa berwirausaha.

Bila informasi ini telah didapatkan maka mempersiapkan potensi akan hal dimaksud menjadi cara untuk bisa keluar dari ancaman dan tantangan yang ada saat ini, dan saatnya mengubah ketakutan itu menjadi peluang untuk bisa bersaing di era kompetitif. Berkomunitas saat ini mulai keren dengan adanya media sosial untuk bisa menyambung komunikasi setelah berkumpul dan berinteraksi langsung, meski berjauhan tetap bisa berinteraksi dengan media sosial dengan fasilitas chating group.

Menggali potensi diri adalah cara untuk menonjolkan kualitas dari kerumunan kuantitas yang ada. Bila dunia kampus hanya cara anda untuk mendapatkan gelar, maka itu tidak bisa menolong anda untuk bisa keluar dari tantangan dunia kerja saat ini, terlebih saat ini adalah era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di mana tenaga kerja bisa saling tukar antar negara Asean. Isu kekinian pun bisa menjadi rujukan dimana banyaknya tenaga kerja asing yang bekerja di negara kita dan akan terus berlanjut bila kualitas SDM kita tidak kita tingkatkan. Jangan salahkan semua ke pemerintah, jangan salahkan semua dengan metode kampus yang membuat kalian sarjana, tapi baiknya ambillah cermin dan tatap baik-baik tampilan kalian untuk melihat potensi yang mana yang anda ingin kembangkan.

Sekarang era digital dan semua harus siap dengan hal itu utamanya genarasi muda. Dulunya ada istilah buta huruf yang dideskripsikan buat mereka yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Dan era ini istilah buta huruf itu telah bergeser untuk teman-teman yang tidak bisa menggunakan komputer dan tidak bisa memanfaatkan internet secara positif. Internet secara unsur adalah bagaimana melakukan browsing, email dan chatting, dan kekininan chating itu lebih dekat dengan media sosial.

Semua harus berbenah, termasuk kampus yang mengeluarkan lulusan, baiknya peka akan tuntutan digital ini. Jangan karena dosenya tidak bisa merespon digital, mahasiswa menjadi korban akan tuntutan zamannya. Menyisipkan semua unsur digital dalam setiap pembelajaran adalah salah satu usulan akan pilhan, untuk menjawab tantangan era kompetisi ini.

Semoga menjadi solusi baik untuk menjawab keserasian kuantitas dan kualitas sumber daya manusia khusunya generasi muda lokal yang insha Allah berprilaku dan berpotensi global.






 photo sesi untuk model (tag by rina)

Jumat, 24 Maret 2017

Media Sosial Andalan Para Pencari Kerja untuk Mengurangi Pengangguran



Palopo, 24 Maret 2017.

Empat hari yang lalu sekitar tanggal 20 Maret 2017, disampaikan untuk membagikan informasi mengenai kebutuhan formasi tenaga admin di salah satu perusahan operator ternama. Karyawan perusahaan diminta membagikan informasinya melalui sosial media. Ada yang membagikan di akun Facebooknya, di Instagram, Line dan Path masing-masing karyawan yang sempat mendapatkan infromasinya dan sempat meresponnya.

Akun media sosial di atas merupakan akun media sosial yang familiar di Kota Palopo maupun di beberapa kabupaten yang ada disekitarnya. Pengumpulan berkas diminta secepatnya, untuk kelanjutan proses wawancara. Karena ada perjalanan dinas ke Masamba, saya melewatkan sehari proses wawancara. Karena bukan di devisi kami maka saya juga tidak terlalu aktif hanya sebagai penghibur dalam proses wawancara.

Setelah sholat Jumat, proses wawancara telah dimuali dan kaget dengan ramainya pelamar yang menunggu giliran wawancara. Saya kemudian mencoba bertanya mengenai berapa jumlah karyawan yang dibutuhkan dan membandingkan dengan berkas lamaran yang saya lihat bertumpuk di beberapa meja. Call centre pun mulai sibuk menelpon untuk mengkonfirmasi jadwal wawancara untuk mereka yang melamar formasi dimaksud.

Terhitung sekitar 70 peserta yang diwawancara total pada hari ini, diluar yang telah diwawancara hari sebelumnya dan masih ada yang terus mengumpulkan berkasnya hari ini, dan akan dijadwalkan besok (sabtu 25 Maret 2017). Dari contact person yang diajukan juga menyampaikan telah menutup dan tidak menerima lagi penyetoran berkas lamaran yang mengkonfirmasi via telepon. Bertanya kepada HRD dan rekan lainnya dan mengestimasi jumlah berkas lamaran yang ada, kurang lebih sekitar 200-an berkas lamaran untuk penerimaan 5 formasi karyawan yang dibutuhkan.
Data di atas khusus untuk penerimaan 5 karyawan, minggu-minggu sebelumnya juga ada penerimaan dengan formasi yang berbeda dengan cara pembagian informasi yang sama dengan formasi lamaran yang berbeda. Ada yang telah masuk masa training dan juga ada yang sementara mempersiapkan diri.

2,5 % untuk perbandingan jumlah yang akan diterima dengan jumlah berkas yang ada, diluar yang masih ingin menyetorkan berkasnya tetapi ditolak. Dengan rata-rata peserta yang diwawancarai adalah sarajana starta satu. Banyak makna dan persepsi yang bisa digali dengan kejadian ini, terlihat akan banyaknya calon pekerja dan bagaimana media sosial sangat memberi manfaat untuk membuka peluang pekerjaan bagi merka.

Media sosial yang pada umumnya digunakan hanya untuk life style, cerita di atas menjelaskan bagaimana media sosial bisa memberi berkah untuk banyak orang yang ingin menghidupi dirinya. Mendapatkan perkejaan melalu media sosial saat ini sangat membantu buat anak-anak muda dan para pencari kerja yang lagi membutuhkannya. Menjadikan berpenghasilan, menghidupi pekerja dan keluarganya adalah kemanfaatan yang harus dijaga untuk keberlangsungan manfaat bagi pengguna media sosial lainnya.

Saat ini Media sosial sangat berperan untuk memberantas kemiskinan dan pengangguran dengan membantu menyebarluaskan informasi-informasi lowongan pekerjaan. Banyaknya pertemanan di media sosial, aktifnya diskusi dalam group media sosial baik komunitas maupun group lainnya akan memberikan banyak peluang untuk mengurangi pengangguran yang ada. Cerita dan fakta di atas merupakan salah satu contoh kemanfaatan media sosial untuk mengurangi pengangguran.

Terus berbagi informasi positif dan mari bermedia sosial positif untuk saling membantu buat sesama.


Obrolan santai tentang Digital dan Media Sosial bersama Bupati Luwu Utara




Obrolan santai tentang Digital dan Media Sosial bersama Bupati Luwu Utara

Masamba, Kamis 23 Maret 2017.

Niatnya kunjungan kerja di Masamba dari Kota Palopo, itupun diajak oleh teman Manager Support Bapak Nur Hamdi yang keseharaiannya menganalisa performance perusahaan di Distributor PT. Telkomsel wilayah Luwu Raya dan Toraja Utara. Menindaklanjuti diskusi pagi mengenai makro ekonomi Luwu Utara yang turun secara Month of Month (MOM), turun dari bulan Pebruari ke Bulan Maret maka kami coba berangkat menuju Kota Masamba yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Luwu Utara. Sebenarnya hanya ingin memonitor dari kantor Branch Office Palopo tapi ingat sop kikil Masamba jadinya mengiyakan ajakan itu.

Diperjalanan sekitar perbatasan Kota Palopo dengan Kecamatan Walenrang Kabupaten Luwu, tiba-tiba saya ingin berdiskusi dengan Bupati Luwu Utara yang selama ini dikenal sebagai Bupati Wanita pertama di Propinsi Sulwesi Selatan. Selain paling cantik dari Bupati lainnya beliau juga dikenal sebagai Bupati cerdas dengan prestasi saat menyelesaikan studinya di Unversitas Hasanuddin sebagai lulusan terbaik. Ibu Indah sapaan Bupati Luwu Utara ini sebelumnya adalah wakil Bupati di Kabupaten yang sama, baru saja mendapat penghargaan pada tanggal 29 November 2016 dan meraih predikat Golden Champion pada The 2nd Indonesia Smart Nation (ISNA).

Saya mencoba menghubungi teman Manager Telkomsel Distribution Centre (TDC) Masamba, sahabat saya Bapak Reski Agustinus untuk meminta jadwal bersilaturahmi dengan beliau. Sembari menghubungi teman baik ibu Indah yang juga teman baik saya, yakni salah seorang anak muda dari Kabupaten Bone. Akhirnya informasi datang dari timnya Pak Reski juga diiyakan oleh taman saya tadi, bahwa ba’da Magrib dijadwalkan untuk bisa sharing dengan beliau.

Mengetahui jadwal tersebut, kami langsung menyantap sop kikil andalan yang berdekatan dengan kantor Bank Sulsel dan kantor pegadaian Kota Masamba. Berjalan dibeberapa outlet pulsa di kota Masamba untuk melakukan wawancara mengenai kondisi makro ekonomi dan memberikan gambaran ke kami mengenai kondisi yang mungkin mempengaruhi turunnya performance secara MOM dari transaksi perusahaan kami. Menunggu breafing sore di Kantor TDC Masamba sembari memunculkan beberapa alternatif solusi dalam menyikapi kondisi makro ekonomi yang ada di Kabupaten Luwu Utara secara umum.

Setelah Sholat magrib berjamaah di Masjid depan Rumah Sakit Andi Djemma Palopo yang tidak jauh dari kantor TDC Masamba, kami bergeser ke rumah jabatan Bupati Luwu Utara yang jaraknya sekitar 1 km dari kantor. Sampai di pos, disapa dengan ramah dan dipersilahkan menunggu di deretan kursi tamu yang ada. Keluarlah seorang wanita dengan sapaan yang begitu ramah sambil membawa beberapa cangkir kopi dan potongan kue, seorang asisten yang selalu menyapa tamu-tamu ibu Indah saat ada yang berkunjung di rujab.

Dengan wajah cerah dan senyumannya setelah menunaikan sholat magrib ibu Indah pun keluar menyapa kami sambil bersalaman erat satu per satu dengan beliau. Saya langsung membuka diskusi dengan memperkenalkan beberapa teman yang ikut berdiskusi. Memulai lembaran-lembaran diskusi dengan pengantar ucapan selamat atas penghargaan beliau mengenai kesiapan baik strategi maupun perangkat, kesiapan dan support Pemda Luwu Utara dalam pemanfaatan IT dalam penyediaan data berbasis elektronik. Mengantar beliau dengan beberapa kajian ilmiah mengenai pemanaatan media digital dalam pemerintah di Indonesia, Jakarta, Bandung Surabaya dan Makassar dengan pendekatan konsep masing-masing. Menjelaskan survei yang dilakukan oleh OMB mengenai pemanfaatan Elektronik Government dari Government to Government, Government to Business, Government to citizen dan Government to Internal.

Bergeser diskusi dengan media sosial untuk ASN dan bagaimana media sosial mulai ramai menjelang kontestasi politik. Menceritakan dengan media sosial instagramya yang aktif beliau gunakan. Berdiskusi dengan canda dan tawa bersama sambil selalu mempersilahkan untuk menyicip hidangan di meja depan kami. Berbagi keseruan dengan kertebukaan beliau dengan pemanfaatan media yang ada, menyikapi hasil penilitian yang update tentang media sosial dan digital yang semakin hari semakin dibutuhkan dan perlu dijadikan manfaat sebelum menjadi ancaman buat masyarakatnya. Memberikan banyak tugas ke SKPD terkait yakni Kominfo Luwu Utara dan bebrapa target yang ada, menceritakan beberapa strategi tentang menerima dan mengabaikan informasi sebagai dukungan dalam membuat perencanaan dan master paln dalam membangun Kabupaten Luwu Utara.

Ingin rasanya berlama-lama berdiskusi dengan beliau, namun kami harus mengerti bahwa Ibu Indah  adalah pejabat publik, yang tenaganya dibutuh untuk banyak kemanfaatan orang. Kami harus menyudahi diskusi sebagai perkenalan yang baik dan pondasi keberlanjutan untuk sama menyikapi digitalisasi dalam upaya pemanfaatannya membangun daerah khusunya di Kabupaten Luwu Utara. Dengan ramahnya setelah kami pamitan, Ibu Bupati masih mencoba membuka sisa sisa diskusi yang kami mengerti sebagai bahasa tubuh dengan respon positif atas kunjungan kami sambil memperkenalkan kami ke suami beliau yang baru saja duduk di samping beliau yg juga telah selesai berdiskusi dengan tamu lainnya.

Berjalan keluar  menuju kendaraan dan merencanakan makan malam dengan menu kuliner ayam goreng kampong Masamba sambil terus berdiskusi dengan kedua ketiga rekan saya, dua orang Manager dan seorang PIC selevel supervisor. Di rumah makan, kami terus membahas hasil diskusi kami dengan Ibu Indah, membahas kepribadian baik beliau, kecerdasannya akan menyimak pembicaraan kami, menerima beberapa masukan dari kami dan tata bahasa yang sangat baik untuk kami cerna sebagai bagian yang ingin ikut bertisipasi membangun Luwu Utara.

Terima kasih sambutan hangatnya Ibu Indah, Bupati andalan kami. Semoga terus memberi manfaat dan mensejahterahkan masyarakat Luwu Utara, terus memberikan ide dan inovasi. Sukses, salama dan sehatki selalu Ibu Indah andalan banyak anak muda dan banyak orang.


 dimuat oleh media online www.nkriberbagi.com edisi 23 Maret 2017

Senin, 20 Maret 2017

Anak Usia Dini dengan Media Sosial




Anak Usia Dini dengan Media Sosial di SIT Asshiddiq Bone

Perkembangan moral dan agama, perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan/kognitif (daya pikir, daya cipta), sosio emosional (sikap dan emosi) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan sesuai kelompok usia yang dilalui oleh anak usia dini.(Permendiknas no 58 tahun 2009).

Masa emas anak dari usia 0-5 tahun juga pernah disampaikan pada forum kerja sama Pemerintah Kabupaten Bone dengan UNICEF beberapa tahun yang lalu dengan konsep Taman Paditungka, yang mengitegrasi lintas SKPD Kabupaten Bone. Masa emas yang dimaksud juga diiyakan oleh beberapa pakar meski dengan konsep dan gaya masing-masing diantaranya, J.H. Pestalozzi, F.W. Frobel, Maria Mentesori, Loros Maraguzzy, Jean Peaget, termasuk Ki Hajar Dewantoro dan banyak lagi yang melakukan kajian baik kekhususan maupun kepakaran.

Disampaikan bahwa merubah kebiasann kita untuk tidak membuang sampah saat berkendara mesti di mulai sejak usia dini. Berutur kata dengan baik pun baiknya dibiasakan sejak anak usia dini. Bakhan beberapa orang tua di Australia sudah mendaftarkan anaknya ke Sekolah Usia Dini sejak dikandungan usia 7 Bulan. Begitu berpengaruhnya mental, sikap dan masa keemasan anak di usia dini.

Sepintas dari judul bahwa anak usia dini yang menggunakan media sosial, namun bukan itu yang saya maksud untuk mengurai kemanfaatan media sosial untuk anak usia dini. Tetapi bagaimana media sosial dimanfaatkan untuk memaksimalkan program anak usia dini ini. Sekolah Islam Terpadu Asshiddiq Bone adalah salah satu yang memanfaatkan media sosial untuk membantu merangsang anak didiknya untuk perkembangan moral dan agama, perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan/kognitif (daya pikir, daya cipta), sosio emosional (sikap dan emosi) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan sesuai kelompok usia seperti yang diamanhkan oleh Permendiknas di atas.

Kegiatan untuk merangsang anak usia dini ini tidak bisa hanya dilakukan sepenuhnya pihak sekolah sebagai fasilitaor, tetapi yang lebih utama yaitu bagaimana orang tua juga bersinergi. Diharapkan orang tua lebih paham dan mengubah beberapa kebiasaan yang bisa mengganggu perkembangan anaknya. Berbagai alasan yang diungkapkan oleh orang tua siswa atas tuntutan dimaksud utamanya alasan sibuk, padahal waktu anak masih lebih banyak di rumah jika dibandingkan waktu di sekolah.

Mengsingkronkan kegiatan di sekolah dengan di rumah dengan banyak tuntutan parameter maka perlu kesepahaman siswa anak usia dini dengan orang tua siswa. Mengerti akan banyaknya parameter tujuan dan capaian pembelajar untuk anaknya. Memberikan pemahaman yang sama dengan melakukan kegiatan Pertemuan Orang tua Siswa (POS). Penggunaan media sosial untuk mengetahui informasi baik yang berlangsung di sekolah ataupun mengapdate perkembangan kegiatan anak yang telah diprogramkan sebelumnya oleh pihak sekolah.

Penggunaan media sosial ini menjadi menarik dan sangat membantu orang tua maupun ustazah (guru/tenaga pengajar di SIT Asshiddiq). Kebiasaan anak yang kadang diulang di rumah biasanya kadang menjadi perselisihan. Contohnya, anak yang di sekolah dilatih motorik kasar maupun halusnya dengan merobek-robek koran atau kertas bekas, juga dilakukan di rumah. Orang tua yang tidak mengerti dengan prilaku ini akan menjadi teguran buat anak, padahal ini adalah salah satu metode pembelajaran anak usia dini. Informasi yang di update tiap hari oleh ustazah di sekolah melalui media sosial chat aplikasi baik bbm maupun whatsapp, sangat membantu untuk mendukung capaian pembelajaran.

Komunikasi interaktif memalui media sosial di SIT Asshidiq, antara Orang Tua siswa dengan tenaga pengajar, mejadi sesuatu yang sangat bermanfaat untuk perkembangan anak usia dini. Semangat orang tua juga sangat antusias melihat perkembangan anaknya detik per detik dalam setiap kegiatannya di sekolah. Orang tua paham akan kurikulum dan sama membantu dalam memberikan rangsangan terbaik buat anaknya dengan berinteraksi melalui media sosial. Ransangan demi ransangan untuk perkembangan anak secara utuh juga menjadi bagian yang selalu di update oleh tenaga pengajar kepada orang tua siswa.

Tidak hanya kegiatan di sekolah, karena ada kegiatan trip ke lapangan (kebun,melihat hewan, ke kantor dan dinas dan tempat-tempat yang telah ditentukan) yang menjadi cerita seru oleh setiap siswa lucu dan imut dalam penyampaian ceritanya saat sampai di rumah. Orang tua siswa sisa mencocokkan cerita anaknya dengan informasi yang didapatkan di media sosial yang terkonseksi dengan tenaga pengajar (ustazah). Melihat foto dan video kegiatan menjadi penyemangat khusus orang tua siswa, melihat perkembangan anaknya yang difasilitasi oleh sekolah.

Suatu kebahagian dengan penuh harapan untuk mencipatakan generasi unggul. Memulai dari usia dini, memanfaatkan masa emas anak untuk asset daerah, agama, bangsa dan negara. Paham dan bersinergi melalui media sosial adalah salah satu kemanfaatan yang sangat baik. Bahwa media sosial bisa digunakan sejak usia dini oleh tenaga pengajar maupun orang tua siswa, atau bahkan ada nilai kemanfaat lebih lainnya.

tulisan ini dimuat di bonepos.com edisi 21 Maret 2017